KAMPUNGKU SAYANG: MAU KEMANA?
Oleh: Jannatul Husna*
Meskipun di tengah perjalanan cita yang meletihkan ini, saya masih terus teringat dengan kampung tercinta. Nun jauh di pedalaman sana. Disela kesibukan membuat tugasan kuliah, persiapan membuat Thesis Master, projek penyelidikan, agenda Bidang Intelektual-Penelitian PPI-UM dan seabrek kegiatan lain, wajah ceruk terisolir yang kaya sumber daya alam itu terus saja hadir. Inilah barangkali kebenaran pituah orang tua Minang, sejauh-jauh bangau tabang balieknyo ka kubangan juo, sejauh-jauh bujang marantau balieknyo ka kampuang juo
Entah kenapa kerinduan itu kembali muncul, padahal dulu--mungkin sampai hari ini--waktu saya belajar selalu mendapatkan cibiran dari orang-orang kampung. Lalu buat apa sebenarnya saya memikirkan kebaikan kampung itu, biar sajalah!
Tapi tidak, sungguh saya tidak sampai hati menelantarkan kemajuan dan perkembangan "negeri tanpa tuan" itu. Air, udara dan tanahnya ikut menjadikan saya seperti hari ini. Saya terlahir dari rahim bunda yang sangat tersayang, di "nagari" ini juga. Tumbuh, besar pun disana. Karena itu, walau baru mampu menyuntik semangat pencerahan lewat tulisan-tulisan kecil di blog, mudah-mudahan harapan itu semakin dekat.
Duhai kampungku sayang...
Telah kau ajarkan kami dengan pertanda alam. Galodoh besar pernah kau hantarkan, tanah longsor dan sebagainya. Tapi, kami tetap saja "tidur" dan tak mau peduli. Kami tak mengambil pelajaran dari kenyataan itu. Terlalu pekak rasanya hati, dan telinga pun sudah banyak yang tuli. Walau suara-suara tentang dunia, kemewahan hidup, kekayaan materi tetap terdengar, tapi suara alam Tuhanmu hilang, entah kemana tak terbaca. Maafkan kami duhai kampungku sayang...
Terlalu berat beban yang kau pikul. Orang-orang yang terus membenci dan mendendam terhadap masa lalu dan masa depan negeri ini selalu menginjak punggungmu yang sedianya telah lelah. Pantasnya mereka itu mangkat saja!?
Izinkan kami untuk menyelamatkan kau, duhai kampungku sayang. Dengan mewariskan generasi yang memiliki wawasan cerah.
Tapi, lagi-lagi semangat itu bagai angat-angat tahi ayam. Hari ini mungkin mereka tampak giat, tapi esok lusa harapan itu mulai berangsur surut. Tak aneh, kadang-kadang hilang di pangkal jalan oleh pengaruh kehidupan materi. Anak-anak yang hidup di atas punggungmu lebih memilih kendaraan bermotor, punya handphone mewah dan bergurau senda.
Tidak banyak penduduk yang mau menghadapi pahitnya dunia menuntut ilmu. Beratnya saat-saat belajar. Saya sangsi kondisimu akan tetap begini sampai kau tutup usia.
Sebuah pepatah Arab seyogyanya dapat mengagetkan semua anak negeri di sana, "man lam yazuq murr al-ta'allum sa'atan fal yazuq murr al-jahl tula hayatih" Siapa saja yang tidak merasakan getirnya menuntut ilmu walau sesaat dari kehidupannya, maka rasakanlah getirnya kebodohan sepanjang hidupnya. Na'uzubillah.
Engkau, duhai kampungku sayang jelas tak mungkin berteriak, karena itu bukan fitrahmu. Tapi saya tahu bahwa keinginanmu adalah lahirnya orang-orang yang berfikir, bekerja dan mampu membuatmu sejajar dengan negeri lain.
Hemat saya, lima tahun atau lebih yang akan datang keyakinan akan kemajuan itu harus segera tiba. Karena itu, kepada sahabat-sahabat saya yang terus mengenyam pengalaman dan wawasan keilmuan (yang bersekolah, baik tingkat menengah mahupun perguruan tinggi) bertekadlah untuk membuat negeri ini bisa tegak dengan gagahnya.
Kepada saudaraku yang menimba pengajaran dari alam semula jadi, di rantau ataupun di kampung sana, dukunglah kebangkitan itu dengan apa yang dimiliki. Indak kayu janjang di kapieng. Tiada gagasan, hargailah pendapat orang lain yang memiliki ilmu pengetahuan.
Kalau bukan kita siapa lagi? Tiada orang yang bakal menjernihkan suasana ini. Bahkan Allah sendiri tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada di dalam diri (cara pandang hidup) mereka sendiri.
Demikian, wallahua'lam.
* Refleksi Diri Seorang Anak Rantau Terhadap Negerinya, "Nagari" Kabun Kec. Sumpur Kudus Kab. Sijunjung
"ما أضيق العيش لو لا فصحة الأمل-Tiada Kesempitan Hidup Melebihi Ketiadaan Cita-cita dan Harapan"
Jumat, 27 Februari 2009
BERBAGI WAKTU: ANTARA MENIMBA ILMU DAN MEMBURU "DINAR"
Oleh: Jannatul Husna
Beberapa hari terakhir ini saya sedikit dibuat kalimpusieng karena harus membagi waktu antara tetap konsen belajar sambil mengais rezeki (memburu ringgit, heheh). Maklum, keduanya harus berjalan sama, karena tuntutan diri--lebih-lebih--menaja keperluan keluarga di kampung sana. Bekerja sambil kuliah, begitulah cerita suratan kali ini.
Tidak seperti kebanyakan kawan-kawan lain di Malaysia, walaupun saya harus ekstra keras membuat projek penelitian dosen di ruangan khas (kampus) mahupun di bilik rumah, namun saya tetap merasa beruntung. Karena tidak ramai yang punya kesempatan begitu. Mayoritas sahabat saya mesti bertandang ke rumah-rumah penduduk Melayu untuk private (mengajar ngaji al-Quran) anak-anak mereka. Dan tidak jarang pula, mereka harus bekerja sebagai pelayan kedai, menjadi sopir, jualan pulsa, menyebar brosur, dsb. Itulah hidup, kawan!
Huh...
Hari ini, meskipun jadual ujian semester kian dekat, yang berarti waktu libur pun telah hampir tiba. Saya tampaknya terpaksa menangguhkan kepulangan ke tanah air. Tidak lain adalah demi menyelesaikan kontrak kerja sebagai Research Assistant sekaligus menyiapkan bahan-bahan Thesis. Duh! Tak terasa, hampir kelar juga tahapan kedua ini. Saya yakin, keluarga saya tercinta, di Kabun dan Tanjung Ampalu sana, masih boleh tabah menunggu kepulangan ini. Toh, semasa penulisan Thesis nanti saya akan banyak menghabiskan masa bersama mereka. Semoga hutang-hutang itu dapat terbayarkan, kalaupun belum bisa lunas seutuhnya.
Benar kata ahli hikmah, kesibukan kerja itu terlalu banyak melebihi waktu yang ada (al-wajibat akthar min al-awqat). Tulisan ini tidak lebih sebenarnya sebagai peringatan kepada diri sendiri tentang; kerjakan urusan lain setelah menyelesaikan satu pekerjaan! Jangan pernah menunda-nunda waktu, karena kesempatan itu belum tentu datang untuk kali kedua.
Duhai Jannatul, teruslah mengukir prestasi walau banyak kewajiban menindih pundakmu yang kerdil, sedikit namun berterusan. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepadamu, kepada kita semua. Amin.
Oleh: Jannatul Husna
Beberapa hari terakhir ini saya sedikit dibuat kalimpusieng karena harus membagi waktu antara tetap konsen belajar sambil mengais rezeki (memburu ringgit, heheh). Maklum, keduanya harus berjalan sama, karena tuntutan diri--lebih-lebih--menaja keperluan keluarga di kampung sana. Bekerja sambil kuliah, begitulah cerita suratan kali ini.
Tidak seperti kebanyakan kawan-kawan lain di Malaysia, walaupun saya harus ekstra keras membuat projek penelitian dosen di ruangan khas (kampus) mahupun di bilik rumah, namun saya tetap merasa beruntung. Karena tidak ramai yang punya kesempatan begitu. Mayoritas sahabat saya mesti bertandang ke rumah-rumah penduduk Melayu untuk private (mengajar ngaji al-Quran) anak-anak mereka. Dan tidak jarang pula, mereka harus bekerja sebagai pelayan kedai, menjadi sopir, jualan pulsa, menyebar brosur, dsb. Itulah hidup, kawan!
Huh...
Hari ini, meskipun jadual ujian semester kian dekat, yang berarti waktu libur pun telah hampir tiba. Saya tampaknya terpaksa menangguhkan kepulangan ke tanah air. Tidak lain adalah demi menyelesaikan kontrak kerja sebagai Research Assistant sekaligus menyiapkan bahan-bahan Thesis. Duh! Tak terasa, hampir kelar juga tahapan kedua ini. Saya yakin, keluarga saya tercinta, di Kabun dan Tanjung Ampalu sana, masih boleh tabah menunggu kepulangan ini. Toh, semasa penulisan Thesis nanti saya akan banyak menghabiskan masa bersama mereka. Semoga hutang-hutang itu dapat terbayarkan, kalaupun belum bisa lunas seutuhnya.
Benar kata ahli hikmah, kesibukan kerja itu terlalu banyak melebihi waktu yang ada (al-wajibat akthar min al-awqat). Tulisan ini tidak lebih sebenarnya sebagai peringatan kepada diri sendiri tentang; kerjakan urusan lain setelah menyelesaikan satu pekerjaan! Jangan pernah menunda-nunda waktu, karena kesempatan itu belum tentu datang untuk kali kedua.
Duhai Jannatul, teruslah mengukir prestasi walau banyak kewajiban menindih pundakmu yang kerdil, sedikit namun berterusan. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepadamu, kepada kita semua. Amin.
Senin, 19 Januari 2009
Kerinduan Terhadap Islam:
Bercerita dengan "cucu" At-Taturk
Sore itu (Jumat, 16 Januari 2009) senang sekali rasanya, karena saya dapat bercerita dengan Mustafa "At-Taturk". Seorang Mahasiswa dari Fakultas Pendidikan University of Malaya, asal negara Turki. Saya kebetulan saja berjumpa dengan dia, "cucu" Mustaffa Kemal At-Taturk yang sekular itu, karena beliau akan pulang ke kolej kediaman ke sebelas (asrama) sedangkan saya mahu menuju (pulang) ke Taman Bukit Angkasa. Awal kisah, beliau hanya bertanya tentang bus apa sebaiknya saya tumpangi untuk sampai ke kolej sebelas (dengan loghat English Turki-tentunya)? Lalu saya sarankan untuk menaiki bus kampus yang sedianya selalu memberikan perkhidmatan tiap saat.
Karena bus yang dimaksudkan itu belum kunjung tiba, lalu saya memulai perbincangan. Saya tanya kepadanya tentang dari negara mana dia berasal, where are you come from, sir? Bukan untuk ogah-ogahan (karena di University of Malaya terlalu banyak mahasiswa internasional, jadi sukar untuk menebak begitu saja, asal muasal seseorang). Lalu dia jawab, i come from Turkey. Lalu dia balik menanyai saya, apakah kamu orang Malaysia? Saya jawab bukan, saya berasal dari Indonesia. Mendengar Indonesia, dia (agaknya) terkenang dengan Jakarta, dimana dia pernah ke Jakarta tempo hari, tapi belum lagi ke Bali ataupun ke Padang.
Banyak hal yang kami bincangkan, termasuk sudah berapa hadith yang kamu hafal? katanya (soalan yang ini--jujur--membuat saya agak sedikit malu, hahahah). Tetapi yang menarik adalah kesadaran beragamanya. Betul, bahwa saya secara kasat mata belum pernah melihat ritual ibadahnya, namun dari penuturannya tentang kebangkitan Islam di Turki membuat saya terkagum-kagum. Dia sangat menyayangkan kenapa mahasiswi Iran, Parsi, dan beberapa negara di Timur Tengah lainnya (yang notabene adalah Muslim), yang "kebetulan" punya kesempatan untuk belajar di luar negara termasuk Malaysia, berani untuk menanggalkan identitas ke-Islamaannya, semacam jilbab, dan gandrung terhadap gaya hidup hedonistik. Bukan mereka saja, katanya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas Islam-pun lebih memilih tren busana dan pergumulan hidup ala Barat yang sekular. Saya kian terperanjat dengan kemungkinan itu, walau bukan berarti saya tampak marah pada si Bule Turkey-Eropa ini.
Itu diantara cerita senja saya menjelang pulang ke rumah. Penat lelah seharian kian terobati ketika sahabat Turki tersebut, memberi saya buku yang amat bagus, karangan Mujaddid Turki Said al-Nursi. Buku itu telah diterjemah ke dalam bahasa Melayu oleh Anwar Fakhri Omar, dengan Risalah Kepada Pesakit. Sementara salinan dalam bahasa Inggrisnya beliau sendiri yang pegang. Diantara isi buku itu ialah mengingatkan kembali kepada setiap muslim akan keyakinan "hidup itu adalah perjuangan, perlu dilalui dengan dua sikap saja, yaitu sabar dan syukur". Kesempitan hidup dalam mengarungi lika-liku itu, selalu didera oleh sakit, jarang menemui suasana sehat-pun sebuah kenikmatan yang perlu dihadapi dengan sabar dan syukur. Secara radikal Said al-Nursi menyebut lebih baik sakit ketimbang sehat, karena suasana haru-biru sakit itu lebih membuat kita ingat dengan Sang Pencipta, daripada sehat-senang yang melenakan.
Benar kata Rasul, ni'matan maghbun fihima 'alaihi al-nas, al-sihhah wa al-faragh (dua nikmat yang selalu diabaikan manusia, yaitu nikmat sehat dan kelapangan).
Diakhir perkenalan, sahabat Mustaffa kembali menyampaikan keinginannya yang besar untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Islam. Dan dia mahu, saya bisa kembali berbagi cerita dengannya kala yang lain, termasuk memberitahukan keberadaan tempat kursus Bahasa itu. Sungguh.
Bercerita dengan "cucu" At-Taturk
Sore itu (Jumat, 16 Januari 2009) senang sekali rasanya, karena saya dapat bercerita dengan Mustafa "At-Taturk". Seorang Mahasiswa dari Fakultas Pendidikan University of Malaya, asal negara Turki. Saya kebetulan saja berjumpa dengan dia, "cucu" Mustaffa Kemal At-Taturk yang sekular itu, karena beliau akan pulang ke kolej kediaman ke sebelas (asrama) sedangkan saya mahu menuju (pulang) ke Taman Bukit Angkasa. Awal kisah, beliau hanya bertanya tentang bus apa sebaiknya saya tumpangi untuk sampai ke kolej sebelas (dengan loghat English Turki-tentunya)? Lalu saya sarankan untuk menaiki bus kampus yang sedianya selalu memberikan perkhidmatan tiap saat.
Karena bus yang dimaksudkan itu belum kunjung tiba, lalu saya memulai perbincangan. Saya tanya kepadanya tentang dari negara mana dia berasal, where are you come from, sir? Bukan untuk ogah-ogahan (karena di University of Malaya terlalu banyak mahasiswa internasional, jadi sukar untuk menebak begitu saja, asal muasal seseorang). Lalu dia jawab, i come from Turkey. Lalu dia balik menanyai saya, apakah kamu orang Malaysia? Saya jawab bukan, saya berasal dari Indonesia. Mendengar Indonesia, dia (agaknya) terkenang dengan Jakarta, dimana dia pernah ke Jakarta tempo hari, tapi belum lagi ke Bali ataupun ke Padang.
Banyak hal yang kami bincangkan, termasuk sudah berapa hadith yang kamu hafal? katanya (soalan yang ini--jujur--membuat saya agak sedikit malu, hahahah). Tetapi yang menarik adalah kesadaran beragamanya. Betul, bahwa saya secara kasat mata belum pernah melihat ritual ibadahnya, namun dari penuturannya tentang kebangkitan Islam di Turki membuat saya terkagum-kagum. Dia sangat menyayangkan kenapa mahasiswi Iran, Parsi, dan beberapa negara di Timur Tengah lainnya (yang notabene adalah Muslim), yang "kebetulan" punya kesempatan untuk belajar di luar negara termasuk Malaysia, berani untuk menanggalkan identitas ke-Islamaannya, semacam jilbab, dan gandrung terhadap gaya hidup hedonistik. Bukan mereka saja, katanya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas Islam-pun lebih memilih tren busana dan pergumulan hidup ala Barat yang sekular. Saya kian terperanjat dengan kemungkinan itu, walau bukan berarti saya tampak marah pada si Bule Turkey-Eropa ini.
Itu diantara cerita senja saya menjelang pulang ke rumah. Penat lelah seharian kian terobati ketika sahabat Turki tersebut, memberi saya buku yang amat bagus, karangan Mujaddid Turki Said al-Nursi. Buku itu telah diterjemah ke dalam bahasa Melayu oleh Anwar Fakhri Omar, dengan Risalah Kepada Pesakit. Sementara salinan dalam bahasa Inggrisnya beliau sendiri yang pegang. Diantara isi buku itu ialah mengingatkan kembali kepada setiap muslim akan keyakinan "hidup itu adalah perjuangan, perlu dilalui dengan dua sikap saja, yaitu sabar dan syukur". Kesempitan hidup dalam mengarungi lika-liku itu, selalu didera oleh sakit, jarang menemui suasana sehat-pun sebuah kenikmatan yang perlu dihadapi dengan sabar dan syukur. Secara radikal Said al-Nursi menyebut lebih baik sakit ketimbang sehat, karena suasana haru-biru sakit itu lebih membuat kita ingat dengan Sang Pencipta, daripada sehat-senang yang melenakan.
Benar kata Rasul, ni'matan maghbun fihima 'alaihi al-nas, al-sihhah wa al-faragh (dua nikmat yang selalu diabaikan manusia, yaitu nikmat sehat dan kelapangan).
Diakhir perkenalan, sahabat Mustaffa kembali menyampaikan keinginannya yang besar untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Islam. Dan dia mahu, saya bisa kembali berbagi cerita dengannya kala yang lain, termasuk memberitahukan keberadaan tempat kursus Bahasa itu. Sungguh.
Jumat, 16 Januari 2009
Kempen Dengan Kepala Babi?
Oleh: Jannatul Husna

Mengejutkan, begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan peristiwa yang berlaku di awal siang ini, Jumat 16 Januari 2009. Penduduk Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya digegerkan dengan temuan kepala babi di surau atau masjid berkenaan. Perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab itu, sepertinya berlangsung dan dirancang sebegitu awal serta cukup rapi. Banyak pihak merasa resah dengan kehadiran dua kepala babi itu mulai dari Direktur APIUM Prof. Dr. Ahmad Hidayat, para pensyarah, pegawai-staf dan mahasiswa, bahkan kelompok tertentu. Karena mereka bukan sekedar meletakkan binatang najis tersebut di komplek Pengajian Islam, tetapi juga (turut) membalutnya dengan bendera kebanggaan partai oposisi Islam di Malaysia, Partai Islam SeMalaysia (PAS). Tindakan provokasi SARA ini agaknya juga berhubung-erat dengan pemilu di tingkat pelajar UM dan pemilihan wakil parlemen yang bakal diadakan di Kuala Terengganu dalam masa yang dekat ini? Untuk saudara ketahui, beberapa hari terakhir, memang mahasiswa Universiti Malaya sedang disibukkan dengan persiapan kempen (kampanye) dan pemilihan Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM-Badan Eksekutif Mahasiswa-kalau di Indonesia). Beragam upaya tentu boleh beredar, sampai tindakan pelecahan atas nama agama seperti hari ini, sekalipun. Naife!
Pagi ini, seperti biasa saya ke kampus dengan maksud untuk menulis dan mencari bahan bacaan di Perpustakaan. Lebih dari itu, saya telah berjanji dengan bang Zaki akan ke Kedai Buku al-Bayan, untuk membeli buku al-Minhaj al-Hadith fi 'Ulum al-Hadith karangan Prof. Dr. Sharf Mahmud al-Qudah, yang beberapa hari lalu telah saya incar untuk dimiliki. Baru terbeli hari ini. Saat berada di ruang kecil inilah saya mengutip informasi bahwa telah berlangsung kejadian miris seperti cerita di atas. Pantas, kehadiran polisi di areal surau kampus (rupanya) menenangkan suasana yang berlaku. Saya baru saja tergumam saat melewati kawasan tersebut. Rupanya itu!

Isu babi untuk kawasan Malaysia memang cukup sensitif, bahkan lokalisasi peternakan babi beberapa waktu terakhir di sejumlah daerah di Malaysia mampu menarik simpati banyak pihak, dan itu mendapat tantangan hebat. Adakah karena Malaysia memiliki penduduk mayoritas muslim? Mungkin saja! Masalah pembiakan babi itu selesai. Biasanya menjadi urusan kerajaan, baik pusat maupun negeri. Tetapi masalah peletakan kepala babi di surau Universiti Tertua di Malaysia dan bergengsi dunia ini bakal menjadi urusan siapa? Kenapa isu politik menjadi berubah dan begitu sangat menjijikan? Adakah peraturan kempen pemilihan wakil mahasiswa UM boleh dirayakan dengan mengundang masuk binatang haram ke dalam kampus. Entahlah?
Apapun yang berlaku hari ini, yang pasti saya ingin mengapresiasi usaha gigih kawan-kawan PPIUM dalam menyiapkan alek pemilu pertama dalam perjalanan PPIUM ini. Mudah-mudahan wakil kita, pelajar-pelajar terbaik Indonesia di Universiti Malaya mampu melakar sejarah baru, menjadi presiden BEM-UM. Dengan tetap mempertunjukkan permainan politik yang santun, cantik dan berwibawa. Bukan dengan cara-cara keji seperti di atas. Walau peluang itu dikesan sangat tipis, namun kita mesti selalu optimis.
Duhai kawan, kita perlu mengajarkan kesantunan politik itu kepada mereka. Ini semua terlepas dari celoteh untung-rugi, seperti yang digulirkan oleh Ustaz Margono. Semoga!
Oleh: Jannatul Husna
Mengejutkan, begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan peristiwa yang berlaku di awal siang ini, Jumat 16 Januari 2009. Penduduk Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya digegerkan dengan temuan kepala babi di surau atau masjid berkenaan. Perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab itu, sepertinya berlangsung dan dirancang sebegitu awal serta cukup rapi. Banyak pihak merasa resah dengan kehadiran dua kepala babi itu mulai dari Direktur APIUM Prof. Dr. Ahmad Hidayat, para pensyarah, pegawai-staf dan mahasiswa, bahkan kelompok tertentu. Karena mereka bukan sekedar meletakkan binatang najis tersebut di komplek Pengajian Islam, tetapi juga (turut) membalutnya dengan bendera kebanggaan partai oposisi Islam di Malaysia, Partai Islam SeMalaysia (PAS). Tindakan provokasi SARA ini agaknya juga berhubung-erat dengan pemilu di tingkat pelajar UM dan pemilihan wakil parlemen yang bakal diadakan di Kuala Terengganu dalam masa yang dekat ini? Untuk saudara ketahui, beberapa hari terakhir, memang mahasiswa Universiti Malaya sedang disibukkan dengan persiapan kempen (kampanye) dan pemilihan Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM-Badan Eksekutif Mahasiswa-kalau di Indonesia). Beragam upaya tentu boleh beredar, sampai tindakan pelecahan atas nama agama seperti hari ini, sekalipun. Naife!
Pagi ini, seperti biasa saya ke kampus dengan maksud untuk menulis dan mencari bahan bacaan di Perpustakaan. Lebih dari itu, saya telah berjanji dengan bang Zaki akan ke Kedai Buku al-Bayan, untuk membeli buku al-Minhaj al-Hadith fi 'Ulum al-Hadith karangan Prof. Dr. Sharf Mahmud al-Qudah, yang beberapa hari lalu telah saya incar untuk dimiliki. Baru terbeli hari ini. Saat berada di ruang kecil inilah saya mengutip informasi bahwa telah berlangsung kejadian miris seperti cerita di atas. Pantas, kehadiran polisi di areal surau kampus (rupanya) menenangkan suasana yang berlaku. Saya baru saja tergumam saat melewati kawasan tersebut. Rupanya itu!

Isu babi untuk kawasan Malaysia memang cukup sensitif, bahkan lokalisasi peternakan babi beberapa waktu terakhir di sejumlah daerah di Malaysia mampu menarik simpati banyak pihak, dan itu mendapat tantangan hebat. Adakah karena Malaysia memiliki penduduk mayoritas muslim? Mungkin saja! Masalah pembiakan babi itu selesai. Biasanya menjadi urusan kerajaan, baik pusat maupun negeri. Tetapi masalah peletakan kepala babi di surau Universiti Tertua di Malaysia dan bergengsi dunia ini bakal menjadi urusan siapa? Kenapa isu politik menjadi berubah dan begitu sangat menjijikan? Adakah peraturan kempen pemilihan wakil mahasiswa UM boleh dirayakan dengan mengundang masuk binatang haram ke dalam kampus. Entahlah?
Apapun yang berlaku hari ini, yang pasti saya ingin mengapresiasi usaha gigih kawan-kawan PPIUM dalam menyiapkan alek pemilu pertama dalam perjalanan PPIUM ini. Mudah-mudahan wakil kita, pelajar-pelajar terbaik Indonesia di Universiti Malaya mampu melakar sejarah baru, menjadi presiden BEM-UM. Dengan tetap mempertunjukkan permainan politik yang santun, cantik dan berwibawa. Bukan dengan cara-cara keji seperti di atas. Walau peluang itu dikesan sangat tipis, namun kita mesti selalu optimis.
Duhai kawan, kita perlu mengajarkan kesantunan politik itu kepada mereka. Ini semua terlepas dari celoteh untung-rugi, seperti yang digulirkan oleh Ustaz Margono. Semoga!
Rabu, 31 Desember 2008
Senin, 10 November 2008
SEJARAH PERKEMBANGAN AL-HADIST
(antara al-kitabah, al-tadwin dan al- tashnif)
Oleh: Elit Ave Hidayatullah
PENDAHULUAN
Muhammad sebagai utusan Allah yang ajarannya ditujukan kepada seluruh alam (rahmatan lil'alamin) adalah keyakinan yang harus di imani oleh seluruh ummat Islam setelah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan kepada beliau mu'jizat al-Qur'an diturunkan. Karena beliau adalah Rasulullah maka segala perbuatan beliau adalah ma'shum dan terjaga. Walaupun demikian interaksi beliau dengan masyarakat dan sahabat-sahabatnya tidak menggunakan protocol yang mengatur segala kegiatan beliau, sehingga dengan mudah para sahabat mengambil dan menerima ajaran beliau. Demikian juga sebaliknya para sahabat menjadikan segala yang diketahui dari perbuatan Rasul, ucapan dan tutur kata Rasul sebagai tumpuan perhatian beliau, segala gerak-gerik Rasulullah adalah teladan dan pedoman hidup mereka. Para sahabat tentunya berkeyakinan bahwa meneladani Rasulullah adalah sebuah kewajiban.
Oleh karena itu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya menurut para ulama' disebut al-Hadist. Dalam kaitannya dengan al-Qur'an, al-Hadist adalah sumber agama kedua setelah al-Qur'an. Selain dari pada itu al-Hadist merupakan tafsir atas ayat-ayatnya, penerang atas makna-makna yang terkandung di dalamnya, pengikat atas kemutlakannya, penjelas atas ke rumitannya, penentu atas kemubhamannya, alasan atas hukum-hukumnya, dan mengikutinya adalah wajib sebagaimana mengikuti al-Qur'an, sebagaiman firman Allah; wa maa ataakum al-rasulu fahudzuuhu wamaa nahaakum 'anhu fantahuu.
Sampai ditangan kita ternyata hadist-hadist sudah terkumpul dalam beberapa buku yang masing-masing memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang berisi kumpulan hadist-hadist sahih seperti dalam sahih bukhari, sahih muslim, sunan tirmidzi, ada yang disusun sesuai dengan bab-bab dan topik seperti dalam al-Tarikh al-Kabir dan lain-lain. Kalau kita cermati betapa banyak buku tentang hadist ini tentu merupakan sebuah keinginan para ulama' untuk berkhidmah kepada rasulullah lewat hadist-hadistnya, dan para ulama dalam mengumpulkan hadist-hadist tersebut tentu tidak dengan sembrono namun mereka memiliki pendekatan khusus dalam mempelajari buku-buku sebelumnya dan metode-metode khusus dalam pengumpulannya.
METODE RASUL DALAM MENYAMPAIKAN HADIST
Dalam bermasyarakat dan berinteraksi dengan para sahabat Rasulullah sangat bebas tidak ada batasan antara beliau dan para sahabat sebagaimana kita berinteraksi dengan masyarakat luas dalam sebuah komutisas dalam satu RT atau RW bahkan satu Desa. Ada beberapa batasan memang namun batasan tersebut tentu dalam hal yang berkenaan dengan masalah rumah tangga atau mu'amalah dengan isteri beliau. Hal ini adalah cara rasul untuk menyampaikan risalah kenabiannya. Sehingga para sahabat mampu memahami ajaran beliau dengan mudah.
Kondisi lingkungan, lahiriyah, batiniyah antara sahabat satu dengan yang lainnya tentu bermacam-macam. Maka apabila rasulullah menyampaikan risalahnya tanpa mengerti dan melihat keadaan tersebut tentu akan banyak ajaran yang akana sia-sia belaka dikarenakan kejenuhan para sahabat. Untuk itu rasulullah sangat memperhatikan cara/ metode yang sesuai dengan keadaan para sahabat. Beberapa cara/metode rasul dalam menyampaikan ajarannya antara lain;
1. Melalui jama'ah dalam sebuah majlis 'ilmi.
2. Melalui sahabat tertentu disengaja atau tidak disengaja, karena berkenaan dengan hal-hal yang sensitif, seperti; masalah keluarga, keebutuhan biologis (masalah hubungan antara suami dan isteri) dan lain-lain.
3. Melalui ceramah atau pidato ditempat-tempat terbuka, seperti saat haji wada'
4. Melalui perbuatan langsung yang disaksikan oleh para sahabat, seperti, tatacara shalat.
5. Melalui pertanyaan yang disampaikan oleh beberapa sahabat, seperti, masalah iman
Dari hal tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa umat Islam menerima hadist secara langsung dari sumbernya yaitu Rasulullah baik melalui perkataan beliau, perbuatan beliau dan ketetapan-ketetapan beliau.
SEKITAR PENULISAN HADIST
Polemik antara perintah dan larangan dalam menulis hadist
Kegiatan tulis menulis Mayoriti perhatian para sahabat pada masa Rasulullah adalah tentang al-Qur’an dan tidak banyak para sahabat yang meberikan perhatian khusus terhadap Hadist. Hal ini bukan karena mereka tidak sengan dengan Hadist, namun lebih disebabakan oleh hadist Rasul yang melarang para sahabat untuk menulis hadist. Diantara mereka yang meriwayatka hadist tersebut adalah Abu Sa’id al-Khudri, Abu Hurairah dan Zaid bin Tsabit.
Dari Abu Sa’id al-Hudzriy RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah menulis ucapan-ucapanku, dan barang siapa menulis ucapanku selain dari al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya”.
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW diberitahu bahwa orang-orang banyak menuis hdist-hadistnya. Maka beliau lalu naik mimbar, dan setelah membaca hamdalah beliau bersabda; Apa maksud kalian menulis kitab-kitab itu?. Saya hanyalah menusia. Siapa yang mempunya tulisan-tulisan harap dibawa kemari”. Kata Abu Hurairah selanjutnya, “kemudian kami mengumplkan tulisan-tulisan itu, lalu dikeluarkan. Lalu kami bertanya Rasulullah. Apakah kami boleh meriwayatkan Hadist dari padamau ya Rasulullah? Rasulullah menjawab “ya boleh, riwayatkanlah hadist-hadist daripadaku, tidak apa-apa. Dan barang siapa mendustakan diriku dengan sengaja, maka siap-siaplah engkau masuk neraka. Kemudian Abu Hurairah mengatakan, “kemudian tulisan-tulisan itu kami kumpulkan menjadi satu lalu kami membakarnya.
Berasal dari Muthalib bin ‘Abdullah bin Hantab. Kata al-Muttalib, Zaid bin Tsabit datang kepada mu’awiyah, lalu Muawiyah menanyai tentang suatu hadist. Muawiyah juga menyuruh pembantunya untuk menulis hadist tersebut. kepada Mu’awiyah, Zaid lalu mengatakan bahwa Rasulullah SAW melarang mereka menulis hadist.
Namun selain hadist-hadist tersebut diatas ternyata, ada juga hadist yang menjelaskan, bahwa Rasulullah mengizinkan untuk menulis hadist, diantaranya;
Dari ‘Abdullah bin Amru bertanya: “Wahai Rasulullah apakah saya mengikat setiap ilmu? Rasul bersabda: (ya). Dan bertanya lagi. “apakah yang akan mengikatnya? Rasul Bersabda; “Kitab”.
Dari Abu Hurairah berkata: “Tidak ada satupun sahabat Nabi SAW paling banyak hadistnya kecuali ‘Abdullah bin Amru, sesungguhnya ia menulis dan aku tidak”.
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku menulis sesuatu yang saya dengar darimu?” Rasul bersabda: “ya”.
Beberapa ulama beranggapan bahwa riwayat hadist yang menyatakan tentang pelarangan Rasul terhadap penulisan hadist adalah tidak diterima dengan beberapa sebab, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri saja yang perlu dipertimbangkan meskipun juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’. Sedangkan hadist yang berkenaan dengan izin Rasul untuk menulis hadist selain yang tersebut di atas adalah masih sangat banyak dan majority riwayatnya adalah shahih.
Sebagaimana telah diterangkan tentang derajat hadiast yang berkaitan dengan permasalah tersebut, dapat disimpulkan bahwa hadist tentang pelarangan menulis di batalkan (mansukh) dengan hadist yang mengizinkan penulisan. Sedangkan tentang maksud pelarangan tersebut adalah disebabkan karena pada awalya para sahabat mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan kepadanya, sebagaiamana mendengarkan keteranga tentang makna ayat tersebut dari Rasulullah dalam satu waktu.
Oleh karena itu kemungkinan penulisan ayat al-Qur’an dan keterangan Rasul dalam satu tempat oleh para sahabat itu terjadi, maka dilaranglah penulisan hadist. Namun setelah muncul para penghafal al-Qur’an dari kalangan para sahabat selain itu mereka juga mempu membedakan antara kalamullah dan kalamurrasul dan hilangnya perasaan takut tercampur antara keduanya, maka dibolehkanlah penulisan tersebut. Sebagaimana Ibn Shalah dalam Muqaddimahnya menyatakan bahwa izin penulisan hadist adalah khusus dan larangan tersebut adalah umum;
ولعله صلى الله عليه وسلم أذن في الكتابة عنه لمن خشى عليه النسيان، ونهى عن الكتابة من وثق بحفظه، محافظة الاتكال على الكتاب، أو نهى عن كتابة ذلك عنه حين خاف عليهم اختلاط ذلك بصحف القرآن العظيم وأذن في كتابته حين أمن من ذلك.
Dari beberapa keterangan tersebut di atas dapat kita fahami bahwa proses penulisan hadist sudah dimulai sejak zaman Rasulullah.
Hadist pada masa sahabat
Loyalitas para sahabat terhadap Rasulullah dan ajarannya memang tidak diragukan lagi. Sejak wafatnya Rasulullah hingga masa Khalifah Umar bin Khatab perhatian para sahabat terhadap al-Qur’an adalah di atas segalanya. Walaupun telah ada riwayat Nabi yang mengizinkan penulisan hadist, namun para sahabat menahan diri untuk menulis hadits, ini disebabkan karena keinginan para sahabat untuk menjaga al-Qur’an dan Hadits. Sehinggalah muncul di antara mereka kelompok yang setuju dengan penulisan hadits dan kelompok yang tidak setuju dengan penulisan tersebut. Namun karena banyak kalangan sahabat yang setuju dengan kegiatan tersebu, maka yang sebelumnya tidak setuju akhirnya menyetujui rencana tersebut.
Adalah Umar bin Khattab (10 SH – 74 H) dalam hal ini sangat berhati-hati dengan rencana tersebut hingga mencurahkan seluruh fikirannya demi rencana tersebut. Sampai akhirnya datanglah petunjuk dengan mengkaji pendapat-pendapat para sahabat, dan setelah melakukan istikharah selama satu bulan, seraya berkata: “Sungguh tidak ada kitab lain selain kitabullah”. Kehati-hatian Umar tersebut bukan tidak beralasan, akan tetapi ditakutkan kegiatan tersebut akan menjadikan perhatian kaum muslimin terhadap al-Qur’an berpindah kepada hadist, yang kemudian menganggap hadits adalah lebih utama dari pada al-Qur’an.
Diantara para sahabat, pada masa Rasulullah masih hidup, banyak diantara mereka yang menulis tentang hadits – meskipun jumlah hadist yang ditulis berbeda antara satu dengan lainnya - yang mana tulisan tersebut dijadikan koleksi pribadi para sahabat, baik tulisan-tulisan tersebut sudah disampaikan kepada kaum muslimin. Diantaranya adalah ‘Abdullah bin Amru bin ‘Ash (27 SH – 63 H), Jabir Ibn Abdillah (16 SH – 78 H), Imam ‘Ali Radliyallahu ‘Anhu (23 SH – 40 H). Disamping tulisan para sahabat tersebut juga terdapat tulisan yang sudah dimusnahkan seperti yang dimiliki oleh Abu Bakar (50 SH – 13 H).
Hadist pada masa tabi’in
Perselisihan pada masa tabi’in ini tidaklah berbeda degan perselisihan pada masa sahabat, yaitu antara kelompok yang memperbolehkan penulisan hadist dan kelompok yang melarang menulisnya. Namun pada masa ini isu yang bergulir adalah bahwa para diantara mereka ada yang memasukkan beberapa ide mereka kedalam hadist. Diantara mereka yang menolak penulisan tersebut adalah; Ubaidah bin ‘Amru al-Sulaimaniy al-Muradiy (72 H), Ibrahim Yazid Taymiy (92 H), Jabir bin Zaid (93 H), Ibrahim al-Nakha’iy (96 H).
Akan tetapi isu tersebut menurut Ibn Shalah dalam muqaddimahnya, menyatakan, bahwa penambahan tersebut bukanlah pada esensi hadits ataupun dzatnya – meskipun pendapatnya juga menuai pro dan kontra. Namun kaum muslim permisif dan setuju dengan menyebarluaskannya, seandainya tidak ditulis dalam sebuah buku maka tidak akan dapat dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya. Sejak saat inilah mulai menyebar penulisan hadist di mana-mana hingga sampai pada para khalifah, sehingganya mereka yang awalnya tidak setuju kemudian mulai mendatangi majlis-majlis ilmu dan mulai memerintahkan kepada beberapa orang untuk menuliskan hadist. Pada masa itu adalah masa Khalifah Umar bin Abd al-Aziz;
عن عبد الله بن دينار قال: خرج علينا عمر ابن عبد العزيز إلي إهل المدينة: أن انظرو حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاكتبوه، فإن قد خفت دروس العلم وذهاب اهله
Maka pada masa khalifah Umar bin Abd al-Aziz inilah mulai muncul perhatian khusus terhadap hadist. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa inilah pertamakali dikumpulkan al-Hadist, walaupun ada yang mengatakan bahwa sebelum Umar yaitu Raja Mesir Abd al-Aziz bin Marwan (85 H). Selain dari pada itu beberapa ulama menyatakan bahwa penulisan hadist sudah sejak zaman Rasulullah sudah dilakukan namun tidak secara resmi, dan di masa Umar bin Abd al-Aziz inilah mulai proses penulisan secara resmi.
Maka tidak heran apabila pada masa ini mulai muncul ulama-ulama yang mengumpulkan dan menghimpun hadist-hadist dalam satu buku. Dan pada masa ini juga penghimpunan tersebut mulai menunjukkan sebuah usaha baru dengan menjadiakan dalam satu kitab tersebut tersusun dengan susunan yang teratur. Diantaranya adalah;
Nama Wafat Tempat
Abd Malik bin Abd Aziz bin Juraikh al-Bashry 150 Mekkah
Malik bin Anas 178
Muhammad bin Ishaq 151 Madinah
Muhammad bin ‘Abdurrahman Abi Dza’bi 158
HADITS NABI DARI MASSA KE MASSA
Pada bagian ini penulis mencoba merangkum apa yang ada pada kitab “Tadwin al-Sunah al-Nabawiyyah” karya Dr. Muhammad Mathor al-Dzahroni. Beliau menjelaskan pada bukunya tentang sejarah perkembangan hadist sejak abad pertama hingga abad kelima selain itu ia dalam bukunya juga disenaraikan beberapa karya yang di hasilkan ulama pada abad tersebut. Sebenarnya juga beliau menjelaskan sedikit tentang karakteristik karya-karya tersebut. namun penulis kali ini tidak menuliskan dalam bagian ini karena pembahasan tentang hal itu akan dibahaskan oleh kawan-kawan lainnya.
a. al-Hadist pada Abad Pertama
Pada abad ini dimulakan pembahasan sejak zaman Rasulullah, Shahabat, dan Tabi’in.
Pertama, hadist pada masa Rasulullah, pada masa ini tidak banyak yang dibahaskan, karena sebagian telah di bahaskan pada bagian sebelum ini. Karena sememangnya perkembangan hadist pada saat itu, masih dalam taraf penulisan dan pengumpulan yang dilakukan oleh beberapa sahabat. Tetang karya yang dihasilkan pada saat itu adalah hanya berupa surat-surat Rasulullah kepada beberapa raja, tidak lebih dari itu.
Kedua, pada masa Sahabat, pada masa ini banyak sekali khidmah khidmah sahabat dalam rangka menjaga kemurnian hadist nabi, diantara beberapa usaha yang dilakukan pada masa ini adalah;
1. Penghafalan hadist dan penjagaannya, disamping itu juga perintah untuk menulis kepada para murid.
2. Penulisan sunah Nabi dari antar satu sahabat dengan sahabat lainnya, sebagai contoh;
a. Asid Bin Hidir al-Anshori telah menulis beberapa hadist Rasul dan Hukum-Hukum Abu Bakar dan kemudian mengirimkannya kepada Marwan bin Hakim.
b. Jabir bin Samrah menulis beberapa hadist Rasul yang diambilnnya dari Amir bin Sa’id bin Abi Waqas. dll
3. Perintah kepada para murid untuk menuliskan setiap hadist yang diperolehinya, sebagai contoh;
a. Anas bin Malik memerintahkan anak-anaknya untuk menulis ilmu yang diajarkan kepadanya.
b. Diriwayatkan dari Khatib dari murid Abdullah bin Abbas ia berkata: “menjaga ilmu dengan menuliskannya pada buku adalah lebih baik. Karena ia adalah sebaik-baik pengikat”. Dll
4. Pengumpulan hadist pada satu mushaf, yang kemudian saling berpindah dari satu syaikh kepada muridnya.
Pada masa inilah mulai dilakukan pengumpulan hadist pada suhuf yang pertama kali pada abad kedua dan ketiga, baik berupa jawami’, masanid, dan sunan. Diantara mushaf tersebut adalah; Sahifah Abu Bakar, Sahifah Ali bin Abi Thalib, Sahifah Abdullah bin Amr bin Ash, semuanya ditulis pada zaman Rasulullah. Selain dari itu ada juga, Sahifah Abdullah bin Abi Aufi, Sahifah Abi Musa al-Asy’ari, Sahifah Jabir bin Abdullah.
Ketiga, usaha Tabi’in dalam menjaga kemurnian hadist Nabi SAW, diantara usahanya adalah;
1. Perintah untuk menghormati sunah dengan menghafal dan menuliskannya dengan memverivikasi riwayatnya dan kabarnya.
2. Pengumpulan hadist pada satu mushaf
Pada masa ini memang sudah tersebar hadist dikalangan masyarakat secara lebih luas lagi dibandingkan dengan pada masa Rasulullah dan Sahabat, sehingga penulisan hadist pada masa ini telah menjadi sebuah trend tersendiri dalam setiap khalaqah ilmu di dunia Islam. Dan beberapa factor yang mendorong kegiatan tersebut adalah;
a. Menyebarnya riwayat hadist, sanad yang panjang, banyaknya nama perawi dan kunnanya, juga nasabnya.
b. Wafatnya beberapa penghafal hadist dari kalangan sahabat dan kibar al-tabi’in. sehingga ditakutkan sunah akan hilang bersamaan dengan meninggalnya mereka.
c. Lemahnya kemampuan menghafal, apalagi semakin menyebarnya ilmu-ilmu lain dikalangan umat muslim.
d. Munculnya kalangan penyebar bid’ah dikalangan muslim.
3. pada masa ini juga telah dihasilkan beberapa karya diantaranya adalah;
a. Sahifah Sa’id bin Jabir murid Ibn Abbas.
b. Sahifah Basyir bin Nahik ditulis dari Abu Hurairah dan lainya.
c. Sahifah Mujahid bin Jabir murid Ibn Abbas, dll.
Keempat, ini adalah beberapa usaha Daulah Islamiah dalam rangka memurnikan hadist dari penyelewengan. Pada masa khalifah Umar bin Abdul Azizlah nampak bahwa perhatian Daulah Islamiah sangat besar atas pekembangan hadist Nabi. Sehingga tidak heran apabila dinisbahkan kepada beliau proses pengumpulan hadist pertamakali. Walaupun ada pendapat yang menyatakan bahwa Ibn Syihablah yang paling pertama telah menulis hadist sebelum Umar.
d. al-Hadist pada Abad Kedua
Pada abad ini dibagi menjadi dua. Pertama adalah shighar tabi’in (yang meninggal terakhir setelah 140H). Pada masa ini adalah masa dimana telah dijelaskan sebelumnya. Kedua, adalah pengikut tabi’in setelah generasi sahabat dan tabi’in dalam silsilah periwayatan sunah dan penyampaian agama kepada kaum muslimin.
Pada masa kedua ini adalah masa dimana kaum muslimin berhadapan dengan kaum penyebar bid’ah dan berita bohong yang dilakukan oleh kaum Zindiq yang memiliki motivasi besar dalam rangka melawan dan menentang kebenaran sunnah. Hingga akhirnya khalifah al-Mahdi berinisiatif untuk mengrim salah seorang untuk masuk kedalam kelompok orang zindik, untuk mengetahui kegiatan dan aktifitas mereka.
Namun dibalik serangan musuh yang bertubi-tubi, timbul pada diri kaum muslimin untuk berkhidmah kepada hadist Nabi, sehingganya mereka mulai mengumpulkan hadist-hadist dengan mensistematiskannya dalam bab-bab yang teratur. Sebagaimana muncul juga pada masa ini ilmu rijal diantara ulama yang menyusun ilmu ini adalah; laits bin Sa’ad (175 H), Ibn Mubarak (181 H), dlumrah bin Rabi’ah (202 H), al-fadl bin Dakkin (217 H), dll. Maka masa ini adalah masa pengasasan ilmu sunah “jil al-ta’sis li ‘ulum al-Sunnah al-Muthahharah” sehingga hidup pada masa ini, Imam Malik, Syafi’I, al-Tsauri, Al-Auza’I, Su’bah, Ibn Mubarak, Ibrahim al-Fazari, ibn Uyainah, Qattan, Ibn Mahdi, waki’, dll.
Karakteristik pengumpulan hadist pada abad ini adalah;
1. Pengumpulan Hadist secara sistematis mengikuti bab dan keutamaan setiap mushaf.
2. Dikumpulkan juga pada masa ini pendapat para sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in disamping hadist-hadist Rasulullah.
3. tekhnik pengumpulan yang digunakan adalah dengan mengumpulkan hadist-hadist sesuai dengan bab kecil, kemudian dikumpulkan bab-bab tersebut pada bab besar atau Kitab dalam satu mushaf.
4. sedangkan materi/matan yang ada dalam musannafat pada masa ini adalah kumpulan mushaf-mushaf pada masa sahabat dan tabi’in juga dari beberapa ungkapan sahabat dan tabi’in secara lisan.
Pada masa ini telah dihasilkan beberapa kary besar yang berkaitan dengan musannaf, jami’, dan sunan, dan yang paling masyhur diantaranya adalah al-muwatha’ imam malik. Selain beberaa kerya tersebut, beberapa ulamapun telah menghasilkan beberapa karya, diantara ulama tersebut;
1. Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (150 H) di mekkah.
2. Muhammad bin Yasar al-Mathlabiy (151 H) di madinah.
3. Mu’ammar bin Rasyid al-Bashriy Shan’aniy (153 H) di Yaman, dll.
e. al-Hadist pada Abad Ketiga
Pada abad ini adalah abad dimana ilmu-ilmu Islam secara umum dan ilmu hadist secara khusus berkembang luas di seluruh penjuru dunia. Maka pada masa inilah mulai muncul kegiatan rihlah untuk mencari ilmu, pennyusunan ilmu rijal, disamping juga muncul para ulama penghafal hadist dan pengkrtik periwayat hadist. Diantara ulama-ulama tersebut adalah; Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahwayah, Ali Ibn al-Madini, Yahya bin Mu’in, Muhammad bin Muslim bin Warah, Abu Abdullah al-Bukhari, Muslim bin Hajjaj, Abu Zar’ah, Abu Hatim al-Raziyani, Utsman bin Sa’id, ‘Abdullah bin Abdullarhman al-Darimiyani, dll.
Karena telah muncul karya-karya baru dalam bidang aqidah maka ulama-ulama hadistpun juga menghasilkan beberapa karya hadist yang berkenaan dengan isu tersebut, diantara karakter karya pada masa ini adalah;
1. Pengumpulan nash-nash dari kitab atau sunah yang berkaitan dengan aqidah yang disertakan padanya keterangan tentang metode salaf – sahabat dan tabi’in – dalam memahami nash-nash tersebut. serta beberapa pandangan mereka terhadap penyebar bid’ah. Dan yang semacam ini diberi judul dengan al-sunnah, contoh; al-Sunnah Ahmad bin Hambal, Anaknya Abdullah, Abi Nash al-maruziy, dll.
2. Penentangan terhadap para penyebar bid’ah, yang mengandungi didalamnya keterangan tetang kesesatan mereka, dan cara menghadapi ancama mereka, sehingga kaum muslimin dapat berhati-hati terhadap ide-ide mereka.
Adapun karakteristik karya mengenai hadist pada masa ini diantaranya adalah;
1. mengklasifiksikan hadist-hadist rasul dan memisahkannya dari pendapat sahabat dan fatwa-fatwa para tabi’in.
2. mengklasifikasikan dan menjelaskan derajat hadist mulai dari yang sahih hingga dla’if.
3. beragamnya karya-karya sunah, diantaranya;
- kutub al-masanid, dikumpulkan daripadanya hadist-hadist para sahabat menjadi satu, seperti musnd al-Imam Ahmad, dll.
- Kitab sahih dan sunan, dikumpulkan padanya hadist-hadst Rasulullah, pada bab utama dan bab-bab kecil dengan memperhatikan derajat kesahihan hingga kedla’ifan hadist tersebut, seperti kutub sittah; Imam Bukhari, Imam Muslim, Sunan Abi Daud, Jami’ Tirmidzi, Sunan Nasa’I, Sunan Ibn Majah.
- Kutub mukhtalaf al-hadist dan kemusykilannya, seperti ikhtilaf al-hadist Imam Syafi’iy, ali al-madiniy, ta’wil mukhtalaf al-hadist ibn Qutaibah.
f. al-Hadist pada Abad Keempat
Pada abad ini tidak banyak metode baru yang dikembangkan oleh para ulama, pada umumnya mereka mengikuti ulama pada abad sebelumnya, yaitu abad ketiga, dan beberapa usaha yang diupayakan ulama hadist pada masa ini, diantaranya adala;
1. mentakhrij hadist-hadist sahih, contoh; sahih in hudzaifah, ibn hibban, dll.
2. Meringkas beberapa hadist sunan dan hukum dengan mengkategorikan sesuai dengan derajat hadist, contoh;
3. menyusun karya mukhtalaf dan musykil hadist sebagai pelengkap karya sebelumnya, contoh;
beberapa bentuk/style karya yang dihasilkan pada masa ini diantaranya adalah;
1. Kitab Musthalah Hadist dan ulum hadist, dengan mengumpulkan daripadanya kaedah-kaedah yang berbeda dalam karya-karya ulama’ pada abad sebelumnya, yaitu abad kedua dan tiga. Contoh;
2. Kutub mustakhrajat, yaitu upaya mentakhrij hadist dari beberapa kitab hadist dengan sanadnya sendiri tanpa mengikuti kaedah penulis, kemudian dikumpulkan sanadnya denga sanad pentakhrij. Contoh;
Sedangkan karya-karya yang masyhur pada abad ini diantaranya;
1. Sahih Ibn Huzaimah
2. Sahih Ibn Hibban
3. Mustadrak hakim
4. Syarh Musykil Atsar al-Tohawiy
5. Mu’jam Kabir al-Thobari
6. Sunah Darul Qutni
7. Sunah Kubra al-Baihaqi.
g. al-Hadist pada Abad Kelima
Pada Abad ini sangat berbeda dengan abad-abad sebelumnya, karena pada abad ini adalah abad dimana dimulai dengan penyusunan karya tentang mausyu’ah hadist, diantaranya;
1. Kitab Jami’ baina Sahihaini
2. Kitab Jami’ baina Kutub Sitah.
Sedangkan beberapa karya yang masyhur pada abad ini, diantaranya;
1. Syarh Sunnah li Al-baghowiy
2. Jami’ al-Usul li Ibn Atsir
h. al-Hadist setelah Abad kelima hingga abad kesembilan
Pada jangka masa yang panjang ini kira-kira empat abad berlalu beberapa penderitaan dan kekacauan muncul dikalangan kaum muslimin, diantara kesengsaraan tersebut adalah;
1. Semakin merosotnya gairah keilmuan dan membekunya pemikiran umat yang sudah mulai nampak tanda-tanda tersebut pada awal abad kelima.
2. Berlangsungnya perang salib dikawasan kaum muslim.
3. TakhluknyaBaghdad di tangan Tartar pada tahun 656 H.
4. Semakin bertambah goncangan ahli bid’ah terhadap kaum muslimin, yang mana ini sudah dimulai sejak awal abad keempat.
5. Perang saudara diantara wilayah kaum muslimin.
Untuk mnghadapi situasi politik tersebut muncul dikalangan para ulama khususnya ulama ahli sunah wal jama’ah usaha untuk meringankan keadaan tersebut, diantara ulama-ulama tersebut adalah;
1. ulama ahlu sunnah seperti; Abu Bakar Baihaqi, Khatib al-Baghdadi hingga muncul Ibnu Taimiyah dengan murid-muridnya yang mulai mengembalikan semangat keilmuan dikalangan umat Islam, sehingga timbul kembali semangat baru untuk berkarya dalam berbagai disiplin ilmu, dalam ilmu Hadist mulai muncul beberapa semangat baru dalam berkhidmat kepada Hadist, diantara samangat tersebut adalah;
a. Berpegang teguh kepada Karya-karya salaf, baik dari hal periwayatan, pengajaran, penjelasan (syarh), dan biography rijal hadist.
b. Berpegang teguh terhadap ilmu hadist, baik penyusunan, pengklasifikasian, dan penjelasan, sehingga muncul pada masa ini berbagai macam karya musthalahul hadist yang sistematis.
c. Penggandaan karya-karya salaf dengan tetap memperhatikan susunannya, sehingga muncul beberapa karya baru, misalnya; 1. Penenyusunan ulang karya-karya salaf dengan tanpa merubah matan dan rijalnya, 2. Penyusunan karya yang mengumpulkan didalamnya judul-judul tertentu yang terbatas, contoh, kutub al-maudhu’at, dan ahkam, 3. Kutub yang memperhatikan khidmat kitab lain, seperti; kutub takhrij, zawaid, dll.
2. Usaha beberapa wilayah dan pemerintah dalam menhdupkan kembali sunah dan menghalau para ahli bid’ah, dengan menghidupkan kembali semgat jihad melawan musuh Islam dan rasulnya dari orang-orang kafir dan munafiq.
3. Usaha para penguasa dan para ulama yang saling nasehat menasehati pada kebenaran dan kesabaran. Sehingga antara ulama dan pemerintah saling mengetahui keutamaan satu dan lainnya.
Beberapa karya pada masa ini, diantaranya;
1. Kutub fi al-Maudluat al-Khasah wa mahdudah
a. Kutub al-Maudlu’at
b. Kutub al-Ahkam
c. Kutub Gharib al-Hadist
d. Kutub al-Targhib wa tarhib
2. Kutub fi al-maudlu’at ‘amah wa samilah
a. kutub al-Athraf
b. kutub al-Takhrij
c. Kutub Zawaid
d. Kutub al-Jawami’
HADIST ANTARA AL-KITABAH, AL-TADWIN, DAN AL-TASHNIF
Al-Kitabah, menurut bahasa adalah masdar dari kataba-yaktubu menulis. Proses penulisan hadist sesuai dengan apa yang telah dijelaskan diatas adalah bahwa ia dimulaikan sejak zaman Rasulullah.
Tadwin, menurut bahasa adalah. Pada abad kedua ini mulailah hadist dibukukan dalam sebuah buku yang tersusun dalam sebuah bab besar sesuai dengan kitab yang digunakan, dan semangat ini muncul pada zaman yang sangat berdekatan pada beberapa tempat yang sedang menggalakkan kajian keilmuan pada sebuh daulah. Sehingga muncul kitab al-masanid kemudian shahih dan tepatlah pada saat ini mulai tersusun kitab hadist secara teratur hingga sampai kepada kita. Sesuai dengan keterangan di atas proses kedua ini sudah dimulai sejak zaman Rasulullah secara tidak resmi dan pada masa Umar bin Abdul Aziz secara resmi dilakukan.
Tashnif, mengumpulkan dari yang tercecer, penjelasan dari yang musykil, peertiban dari yang tidak tertib, menyusun dengan mendaftar dari yang tidak tersusun, sehingga memudahkan bagi talib al-Hadist untuk memanfaatkan buku tersebut. Dari makna diatas maka nampak bahwa proses ini dimulaipada abad ke Abad kedua.
Kesimpulan
Maka hadist sampai pada kita saat ini telah mengalami beberapa proses yang panjang, penyaringan yang ketat, dan klasifikasi yang tepat. Dan khidmah para ulama-ulama abad-abad lampau sungguh sangat besar terhadap pengembangan hadist. Dan ini juga merupakan sebuh bukti bahwa proses keilmuan islam juga memiliki karakteristik sendiri dan tidak mengikuti budaya bangsa lain.
(antara al-kitabah, al-tadwin dan al- tashnif)
Oleh: Elit Ave Hidayatullah
PENDAHULUAN
Muhammad sebagai utusan Allah yang ajarannya ditujukan kepada seluruh alam (rahmatan lil'alamin) adalah keyakinan yang harus di imani oleh seluruh ummat Islam setelah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan kepada beliau mu'jizat al-Qur'an diturunkan. Karena beliau adalah Rasulullah maka segala perbuatan beliau adalah ma'shum dan terjaga. Walaupun demikian interaksi beliau dengan masyarakat dan sahabat-sahabatnya tidak menggunakan protocol yang mengatur segala kegiatan beliau, sehingga dengan mudah para sahabat mengambil dan menerima ajaran beliau. Demikian juga sebaliknya para sahabat menjadikan segala yang diketahui dari perbuatan Rasul, ucapan dan tutur kata Rasul sebagai tumpuan perhatian beliau, segala gerak-gerik Rasulullah adalah teladan dan pedoman hidup mereka. Para sahabat tentunya berkeyakinan bahwa meneladani Rasulullah adalah sebuah kewajiban.
Oleh karena itu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya menurut para ulama' disebut al-Hadist. Dalam kaitannya dengan al-Qur'an, al-Hadist adalah sumber agama kedua setelah al-Qur'an. Selain dari pada itu al-Hadist merupakan tafsir atas ayat-ayatnya, penerang atas makna-makna yang terkandung di dalamnya, pengikat atas kemutlakannya, penjelas atas ke rumitannya, penentu atas kemubhamannya, alasan atas hukum-hukumnya, dan mengikutinya adalah wajib sebagaimana mengikuti al-Qur'an, sebagaiman firman Allah; wa maa ataakum al-rasulu fahudzuuhu wamaa nahaakum 'anhu fantahuu.
Sampai ditangan kita ternyata hadist-hadist sudah terkumpul dalam beberapa buku yang masing-masing memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang berisi kumpulan hadist-hadist sahih seperti dalam sahih bukhari, sahih muslim, sunan tirmidzi, ada yang disusun sesuai dengan bab-bab dan topik seperti dalam al-Tarikh al-Kabir dan lain-lain. Kalau kita cermati betapa banyak buku tentang hadist ini tentu merupakan sebuah keinginan para ulama' untuk berkhidmah kepada rasulullah lewat hadist-hadistnya, dan para ulama dalam mengumpulkan hadist-hadist tersebut tentu tidak dengan sembrono namun mereka memiliki pendekatan khusus dalam mempelajari buku-buku sebelumnya dan metode-metode khusus dalam pengumpulannya.
METODE RASUL DALAM MENYAMPAIKAN HADIST
Dalam bermasyarakat dan berinteraksi dengan para sahabat Rasulullah sangat bebas tidak ada batasan antara beliau dan para sahabat sebagaimana kita berinteraksi dengan masyarakat luas dalam sebuah komutisas dalam satu RT atau RW bahkan satu Desa. Ada beberapa batasan memang namun batasan tersebut tentu dalam hal yang berkenaan dengan masalah rumah tangga atau mu'amalah dengan isteri beliau. Hal ini adalah cara rasul untuk menyampaikan risalah kenabiannya. Sehingga para sahabat mampu memahami ajaran beliau dengan mudah.
Kondisi lingkungan, lahiriyah, batiniyah antara sahabat satu dengan yang lainnya tentu bermacam-macam. Maka apabila rasulullah menyampaikan risalahnya tanpa mengerti dan melihat keadaan tersebut tentu akan banyak ajaran yang akana sia-sia belaka dikarenakan kejenuhan para sahabat. Untuk itu rasulullah sangat memperhatikan cara/ metode yang sesuai dengan keadaan para sahabat. Beberapa cara/metode rasul dalam menyampaikan ajarannya antara lain;
1. Melalui jama'ah dalam sebuah majlis 'ilmi.
2. Melalui sahabat tertentu disengaja atau tidak disengaja, karena berkenaan dengan hal-hal yang sensitif, seperti; masalah keluarga, keebutuhan biologis (masalah hubungan antara suami dan isteri) dan lain-lain.
3. Melalui ceramah atau pidato ditempat-tempat terbuka, seperti saat haji wada'
4. Melalui perbuatan langsung yang disaksikan oleh para sahabat, seperti, tatacara shalat.
5. Melalui pertanyaan yang disampaikan oleh beberapa sahabat, seperti, masalah iman
Dari hal tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa umat Islam menerima hadist secara langsung dari sumbernya yaitu Rasulullah baik melalui perkataan beliau, perbuatan beliau dan ketetapan-ketetapan beliau.
SEKITAR PENULISAN HADIST
Polemik antara perintah dan larangan dalam menulis hadist
Kegiatan tulis menulis Mayoriti perhatian para sahabat pada masa Rasulullah adalah tentang al-Qur’an dan tidak banyak para sahabat yang meberikan perhatian khusus terhadap Hadist. Hal ini bukan karena mereka tidak sengan dengan Hadist, namun lebih disebabakan oleh hadist Rasul yang melarang para sahabat untuk menulis hadist. Diantara mereka yang meriwayatka hadist tersebut adalah Abu Sa’id al-Khudri, Abu Hurairah dan Zaid bin Tsabit.
Dari Abu Sa’id al-Hudzriy RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah menulis ucapan-ucapanku, dan barang siapa menulis ucapanku selain dari al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya”.
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW diberitahu bahwa orang-orang banyak menuis hdist-hadistnya. Maka beliau lalu naik mimbar, dan setelah membaca hamdalah beliau bersabda; Apa maksud kalian menulis kitab-kitab itu?. Saya hanyalah menusia. Siapa yang mempunya tulisan-tulisan harap dibawa kemari”. Kata Abu Hurairah selanjutnya, “kemudian kami mengumplkan tulisan-tulisan itu, lalu dikeluarkan. Lalu kami bertanya Rasulullah. Apakah kami boleh meriwayatkan Hadist dari padamau ya Rasulullah? Rasulullah menjawab “ya boleh, riwayatkanlah hadist-hadist daripadaku, tidak apa-apa. Dan barang siapa mendustakan diriku dengan sengaja, maka siap-siaplah engkau masuk neraka. Kemudian Abu Hurairah mengatakan, “kemudian tulisan-tulisan itu kami kumpulkan menjadi satu lalu kami membakarnya.
Berasal dari Muthalib bin ‘Abdullah bin Hantab. Kata al-Muttalib, Zaid bin Tsabit datang kepada mu’awiyah, lalu Muawiyah menanyai tentang suatu hadist. Muawiyah juga menyuruh pembantunya untuk menulis hadist tersebut. kepada Mu’awiyah, Zaid lalu mengatakan bahwa Rasulullah SAW melarang mereka menulis hadist.
Namun selain hadist-hadist tersebut diatas ternyata, ada juga hadist yang menjelaskan, bahwa Rasulullah mengizinkan untuk menulis hadist, diantaranya;
Dari ‘Abdullah bin Amru bertanya: “Wahai Rasulullah apakah saya mengikat setiap ilmu? Rasul bersabda: (ya). Dan bertanya lagi. “apakah yang akan mengikatnya? Rasul Bersabda; “Kitab”.
Dari Abu Hurairah berkata: “Tidak ada satupun sahabat Nabi SAW paling banyak hadistnya kecuali ‘Abdullah bin Amru, sesungguhnya ia menulis dan aku tidak”.
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku menulis sesuatu yang saya dengar darimu?” Rasul bersabda: “ya”.
Beberapa ulama beranggapan bahwa riwayat hadist yang menyatakan tentang pelarangan Rasul terhadap penulisan hadist adalah tidak diterima dengan beberapa sebab, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri saja yang perlu dipertimbangkan meskipun juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’. Sedangkan hadist yang berkenaan dengan izin Rasul untuk menulis hadist selain yang tersebut di atas adalah masih sangat banyak dan majority riwayatnya adalah shahih.
Sebagaimana telah diterangkan tentang derajat hadiast yang berkaitan dengan permasalah tersebut, dapat disimpulkan bahwa hadist tentang pelarangan menulis di batalkan (mansukh) dengan hadist yang mengizinkan penulisan. Sedangkan tentang maksud pelarangan tersebut adalah disebabkan karena pada awalya para sahabat mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan kepadanya, sebagaiamana mendengarkan keteranga tentang makna ayat tersebut dari Rasulullah dalam satu waktu.
Oleh karena itu kemungkinan penulisan ayat al-Qur’an dan keterangan Rasul dalam satu tempat oleh para sahabat itu terjadi, maka dilaranglah penulisan hadist. Namun setelah muncul para penghafal al-Qur’an dari kalangan para sahabat selain itu mereka juga mempu membedakan antara kalamullah dan kalamurrasul dan hilangnya perasaan takut tercampur antara keduanya, maka dibolehkanlah penulisan tersebut. Sebagaimana Ibn Shalah dalam Muqaddimahnya menyatakan bahwa izin penulisan hadist adalah khusus dan larangan tersebut adalah umum;
ولعله صلى الله عليه وسلم أذن في الكتابة عنه لمن خشى عليه النسيان، ونهى عن الكتابة من وثق بحفظه، محافظة الاتكال على الكتاب، أو نهى عن كتابة ذلك عنه حين خاف عليهم اختلاط ذلك بصحف القرآن العظيم وأذن في كتابته حين أمن من ذلك.
Dari beberapa keterangan tersebut di atas dapat kita fahami bahwa proses penulisan hadist sudah dimulai sejak zaman Rasulullah.
Hadist pada masa sahabat
Loyalitas para sahabat terhadap Rasulullah dan ajarannya memang tidak diragukan lagi. Sejak wafatnya Rasulullah hingga masa Khalifah Umar bin Khatab perhatian para sahabat terhadap al-Qur’an adalah di atas segalanya. Walaupun telah ada riwayat Nabi yang mengizinkan penulisan hadist, namun para sahabat menahan diri untuk menulis hadits, ini disebabkan karena keinginan para sahabat untuk menjaga al-Qur’an dan Hadits. Sehinggalah muncul di antara mereka kelompok yang setuju dengan penulisan hadits dan kelompok yang tidak setuju dengan penulisan tersebut. Namun karena banyak kalangan sahabat yang setuju dengan kegiatan tersebu, maka yang sebelumnya tidak setuju akhirnya menyetujui rencana tersebut.
Adalah Umar bin Khattab (10 SH – 74 H) dalam hal ini sangat berhati-hati dengan rencana tersebut hingga mencurahkan seluruh fikirannya demi rencana tersebut. Sampai akhirnya datanglah petunjuk dengan mengkaji pendapat-pendapat para sahabat, dan setelah melakukan istikharah selama satu bulan, seraya berkata: “Sungguh tidak ada kitab lain selain kitabullah”. Kehati-hatian Umar tersebut bukan tidak beralasan, akan tetapi ditakutkan kegiatan tersebut akan menjadikan perhatian kaum muslimin terhadap al-Qur’an berpindah kepada hadist, yang kemudian menganggap hadits adalah lebih utama dari pada al-Qur’an.
Diantara para sahabat, pada masa Rasulullah masih hidup, banyak diantara mereka yang menulis tentang hadits – meskipun jumlah hadist yang ditulis berbeda antara satu dengan lainnya - yang mana tulisan tersebut dijadikan koleksi pribadi para sahabat, baik tulisan-tulisan tersebut sudah disampaikan kepada kaum muslimin. Diantaranya adalah ‘Abdullah bin Amru bin ‘Ash (27 SH – 63 H), Jabir Ibn Abdillah (16 SH – 78 H), Imam ‘Ali Radliyallahu ‘Anhu (23 SH – 40 H). Disamping tulisan para sahabat tersebut juga terdapat tulisan yang sudah dimusnahkan seperti yang dimiliki oleh Abu Bakar (50 SH – 13 H).
Hadist pada masa tabi’in
Perselisihan pada masa tabi’in ini tidaklah berbeda degan perselisihan pada masa sahabat, yaitu antara kelompok yang memperbolehkan penulisan hadist dan kelompok yang melarang menulisnya. Namun pada masa ini isu yang bergulir adalah bahwa para diantara mereka ada yang memasukkan beberapa ide mereka kedalam hadist. Diantara mereka yang menolak penulisan tersebut adalah; Ubaidah bin ‘Amru al-Sulaimaniy al-Muradiy (72 H), Ibrahim Yazid Taymiy (92 H), Jabir bin Zaid (93 H), Ibrahim al-Nakha’iy (96 H).
Akan tetapi isu tersebut menurut Ibn Shalah dalam muqaddimahnya, menyatakan, bahwa penambahan tersebut bukanlah pada esensi hadits ataupun dzatnya – meskipun pendapatnya juga menuai pro dan kontra. Namun kaum muslim permisif dan setuju dengan menyebarluaskannya, seandainya tidak ditulis dalam sebuah buku maka tidak akan dapat dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya. Sejak saat inilah mulai menyebar penulisan hadist di mana-mana hingga sampai pada para khalifah, sehingganya mereka yang awalnya tidak setuju kemudian mulai mendatangi majlis-majlis ilmu dan mulai memerintahkan kepada beberapa orang untuk menuliskan hadist. Pada masa itu adalah masa Khalifah Umar bin Abd al-Aziz;
عن عبد الله بن دينار قال: خرج علينا عمر ابن عبد العزيز إلي إهل المدينة: أن انظرو حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاكتبوه، فإن قد خفت دروس العلم وذهاب اهله
Maka pada masa khalifah Umar bin Abd al-Aziz inilah mulai muncul perhatian khusus terhadap hadist. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa inilah pertamakali dikumpulkan al-Hadist, walaupun ada yang mengatakan bahwa sebelum Umar yaitu Raja Mesir Abd al-Aziz bin Marwan (85 H). Selain dari pada itu beberapa ulama menyatakan bahwa penulisan hadist sudah sejak zaman Rasulullah sudah dilakukan namun tidak secara resmi, dan di masa Umar bin Abd al-Aziz inilah mulai proses penulisan secara resmi.
Maka tidak heran apabila pada masa ini mulai muncul ulama-ulama yang mengumpulkan dan menghimpun hadist-hadist dalam satu buku. Dan pada masa ini juga penghimpunan tersebut mulai menunjukkan sebuah usaha baru dengan menjadiakan dalam satu kitab tersebut tersusun dengan susunan yang teratur. Diantaranya adalah;
Nama Wafat Tempat
Abd Malik bin Abd Aziz bin Juraikh al-Bashry 150 Mekkah
Malik bin Anas 178
Muhammad bin Ishaq 151 Madinah
Muhammad bin ‘Abdurrahman Abi Dza’bi 158
HADITS NABI DARI MASSA KE MASSA
Pada bagian ini penulis mencoba merangkum apa yang ada pada kitab “Tadwin al-Sunah al-Nabawiyyah” karya Dr. Muhammad Mathor al-Dzahroni. Beliau menjelaskan pada bukunya tentang sejarah perkembangan hadist sejak abad pertama hingga abad kelima selain itu ia dalam bukunya juga disenaraikan beberapa karya yang di hasilkan ulama pada abad tersebut. Sebenarnya juga beliau menjelaskan sedikit tentang karakteristik karya-karya tersebut. namun penulis kali ini tidak menuliskan dalam bagian ini karena pembahasan tentang hal itu akan dibahaskan oleh kawan-kawan lainnya.
a. al-Hadist pada Abad Pertama
Pada abad ini dimulakan pembahasan sejak zaman Rasulullah, Shahabat, dan Tabi’in.
Pertama, hadist pada masa Rasulullah, pada masa ini tidak banyak yang dibahaskan, karena sebagian telah di bahaskan pada bagian sebelum ini. Karena sememangnya perkembangan hadist pada saat itu, masih dalam taraf penulisan dan pengumpulan yang dilakukan oleh beberapa sahabat. Tetang karya yang dihasilkan pada saat itu adalah hanya berupa surat-surat Rasulullah kepada beberapa raja, tidak lebih dari itu.
Kedua, pada masa Sahabat, pada masa ini banyak sekali khidmah khidmah sahabat dalam rangka menjaga kemurnian hadist nabi, diantara beberapa usaha yang dilakukan pada masa ini adalah;
1. Penghafalan hadist dan penjagaannya, disamping itu juga perintah untuk menulis kepada para murid.
2. Penulisan sunah Nabi dari antar satu sahabat dengan sahabat lainnya, sebagai contoh;
a. Asid Bin Hidir al-Anshori telah menulis beberapa hadist Rasul dan Hukum-Hukum Abu Bakar dan kemudian mengirimkannya kepada Marwan bin Hakim.
b. Jabir bin Samrah menulis beberapa hadist Rasul yang diambilnnya dari Amir bin Sa’id bin Abi Waqas. dll
3. Perintah kepada para murid untuk menuliskan setiap hadist yang diperolehinya, sebagai contoh;
a. Anas bin Malik memerintahkan anak-anaknya untuk menulis ilmu yang diajarkan kepadanya.
b. Diriwayatkan dari Khatib dari murid Abdullah bin Abbas ia berkata: “menjaga ilmu dengan menuliskannya pada buku adalah lebih baik. Karena ia adalah sebaik-baik pengikat”. Dll
4. Pengumpulan hadist pada satu mushaf, yang kemudian saling berpindah dari satu syaikh kepada muridnya.
Pada masa inilah mulai dilakukan pengumpulan hadist pada suhuf yang pertama kali pada abad kedua dan ketiga, baik berupa jawami’, masanid, dan sunan. Diantara mushaf tersebut adalah; Sahifah Abu Bakar, Sahifah Ali bin Abi Thalib, Sahifah Abdullah bin Amr bin Ash, semuanya ditulis pada zaman Rasulullah. Selain dari itu ada juga, Sahifah Abdullah bin Abi Aufi, Sahifah Abi Musa al-Asy’ari, Sahifah Jabir bin Abdullah.
Ketiga, usaha Tabi’in dalam menjaga kemurnian hadist Nabi SAW, diantara usahanya adalah;
1. Perintah untuk menghormati sunah dengan menghafal dan menuliskannya dengan memverivikasi riwayatnya dan kabarnya.
2. Pengumpulan hadist pada satu mushaf
Pada masa ini memang sudah tersebar hadist dikalangan masyarakat secara lebih luas lagi dibandingkan dengan pada masa Rasulullah dan Sahabat, sehingga penulisan hadist pada masa ini telah menjadi sebuah trend tersendiri dalam setiap khalaqah ilmu di dunia Islam. Dan beberapa factor yang mendorong kegiatan tersebut adalah;
a. Menyebarnya riwayat hadist, sanad yang panjang, banyaknya nama perawi dan kunnanya, juga nasabnya.
b. Wafatnya beberapa penghafal hadist dari kalangan sahabat dan kibar al-tabi’in. sehingga ditakutkan sunah akan hilang bersamaan dengan meninggalnya mereka.
c. Lemahnya kemampuan menghafal, apalagi semakin menyebarnya ilmu-ilmu lain dikalangan umat muslim.
d. Munculnya kalangan penyebar bid’ah dikalangan muslim.
3. pada masa ini juga telah dihasilkan beberapa karya diantaranya adalah;
a. Sahifah Sa’id bin Jabir murid Ibn Abbas.
b. Sahifah Basyir bin Nahik ditulis dari Abu Hurairah dan lainya.
c. Sahifah Mujahid bin Jabir murid Ibn Abbas, dll.
Keempat, ini adalah beberapa usaha Daulah Islamiah dalam rangka memurnikan hadist dari penyelewengan. Pada masa khalifah Umar bin Abdul Azizlah nampak bahwa perhatian Daulah Islamiah sangat besar atas pekembangan hadist Nabi. Sehingga tidak heran apabila dinisbahkan kepada beliau proses pengumpulan hadist pertamakali. Walaupun ada pendapat yang menyatakan bahwa Ibn Syihablah yang paling pertama telah menulis hadist sebelum Umar.
d. al-Hadist pada Abad Kedua
Pada abad ini dibagi menjadi dua. Pertama adalah shighar tabi’in (yang meninggal terakhir setelah 140H). Pada masa ini adalah masa dimana telah dijelaskan sebelumnya. Kedua, adalah pengikut tabi’in setelah generasi sahabat dan tabi’in dalam silsilah periwayatan sunah dan penyampaian agama kepada kaum muslimin.
Pada masa kedua ini adalah masa dimana kaum muslimin berhadapan dengan kaum penyebar bid’ah dan berita bohong yang dilakukan oleh kaum Zindiq yang memiliki motivasi besar dalam rangka melawan dan menentang kebenaran sunnah. Hingga akhirnya khalifah al-Mahdi berinisiatif untuk mengrim salah seorang untuk masuk kedalam kelompok orang zindik, untuk mengetahui kegiatan dan aktifitas mereka.
Namun dibalik serangan musuh yang bertubi-tubi, timbul pada diri kaum muslimin untuk berkhidmah kepada hadist Nabi, sehingganya mereka mulai mengumpulkan hadist-hadist dengan mensistematiskannya dalam bab-bab yang teratur. Sebagaimana muncul juga pada masa ini ilmu rijal diantara ulama yang menyusun ilmu ini adalah; laits bin Sa’ad (175 H), Ibn Mubarak (181 H), dlumrah bin Rabi’ah (202 H), al-fadl bin Dakkin (217 H), dll. Maka masa ini adalah masa pengasasan ilmu sunah “jil al-ta’sis li ‘ulum al-Sunnah al-Muthahharah” sehingga hidup pada masa ini, Imam Malik, Syafi’I, al-Tsauri, Al-Auza’I, Su’bah, Ibn Mubarak, Ibrahim al-Fazari, ibn Uyainah, Qattan, Ibn Mahdi, waki’, dll.
Karakteristik pengumpulan hadist pada abad ini adalah;
1. Pengumpulan Hadist secara sistematis mengikuti bab dan keutamaan setiap mushaf.
2. Dikumpulkan juga pada masa ini pendapat para sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in disamping hadist-hadist Rasulullah.
3. tekhnik pengumpulan yang digunakan adalah dengan mengumpulkan hadist-hadist sesuai dengan bab kecil, kemudian dikumpulkan bab-bab tersebut pada bab besar atau Kitab dalam satu mushaf.
4. sedangkan materi/matan yang ada dalam musannafat pada masa ini adalah kumpulan mushaf-mushaf pada masa sahabat dan tabi’in juga dari beberapa ungkapan sahabat dan tabi’in secara lisan.
Pada masa ini telah dihasilkan beberapa kary besar yang berkaitan dengan musannaf, jami’, dan sunan, dan yang paling masyhur diantaranya adalah al-muwatha’ imam malik. Selain beberaa kerya tersebut, beberapa ulamapun telah menghasilkan beberapa karya, diantara ulama tersebut;
1. Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (150 H) di mekkah.
2. Muhammad bin Yasar al-Mathlabiy (151 H) di madinah.
3. Mu’ammar bin Rasyid al-Bashriy Shan’aniy (153 H) di Yaman, dll.
e. al-Hadist pada Abad Ketiga
Pada abad ini adalah abad dimana ilmu-ilmu Islam secara umum dan ilmu hadist secara khusus berkembang luas di seluruh penjuru dunia. Maka pada masa inilah mulai muncul kegiatan rihlah untuk mencari ilmu, pennyusunan ilmu rijal, disamping juga muncul para ulama penghafal hadist dan pengkrtik periwayat hadist. Diantara ulama-ulama tersebut adalah; Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahwayah, Ali Ibn al-Madini, Yahya bin Mu’in, Muhammad bin Muslim bin Warah, Abu Abdullah al-Bukhari, Muslim bin Hajjaj, Abu Zar’ah, Abu Hatim al-Raziyani, Utsman bin Sa’id, ‘Abdullah bin Abdullarhman al-Darimiyani, dll.
Karena telah muncul karya-karya baru dalam bidang aqidah maka ulama-ulama hadistpun juga menghasilkan beberapa karya hadist yang berkenaan dengan isu tersebut, diantara karakter karya pada masa ini adalah;
1. Pengumpulan nash-nash dari kitab atau sunah yang berkaitan dengan aqidah yang disertakan padanya keterangan tentang metode salaf – sahabat dan tabi’in – dalam memahami nash-nash tersebut. serta beberapa pandangan mereka terhadap penyebar bid’ah. Dan yang semacam ini diberi judul dengan al-sunnah, contoh; al-Sunnah Ahmad bin Hambal, Anaknya Abdullah, Abi Nash al-maruziy, dll.
2. Penentangan terhadap para penyebar bid’ah, yang mengandungi didalamnya keterangan tetang kesesatan mereka, dan cara menghadapi ancama mereka, sehingga kaum muslimin dapat berhati-hati terhadap ide-ide mereka.
Adapun karakteristik karya mengenai hadist pada masa ini diantaranya adalah;
1. mengklasifiksikan hadist-hadist rasul dan memisahkannya dari pendapat sahabat dan fatwa-fatwa para tabi’in.
2. mengklasifikasikan dan menjelaskan derajat hadist mulai dari yang sahih hingga dla’if.
3. beragamnya karya-karya sunah, diantaranya;
- kutub al-masanid, dikumpulkan daripadanya hadist-hadist para sahabat menjadi satu, seperti musnd al-Imam Ahmad, dll.
- Kitab sahih dan sunan, dikumpulkan padanya hadist-hadst Rasulullah, pada bab utama dan bab-bab kecil dengan memperhatikan derajat kesahihan hingga kedla’ifan hadist tersebut, seperti kutub sittah; Imam Bukhari, Imam Muslim, Sunan Abi Daud, Jami’ Tirmidzi, Sunan Nasa’I, Sunan Ibn Majah.
- Kutub mukhtalaf al-hadist dan kemusykilannya, seperti ikhtilaf al-hadist Imam Syafi’iy, ali al-madiniy, ta’wil mukhtalaf al-hadist ibn Qutaibah.
f. al-Hadist pada Abad Keempat
Pada abad ini tidak banyak metode baru yang dikembangkan oleh para ulama, pada umumnya mereka mengikuti ulama pada abad sebelumnya, yaitu abad ketiga, dan beberapa usaha yang diupayakan ulama hadist pada masa ini, diantaranya adala;
1. mentakhrij hadist-hadist sahih, contoh; sahih in hudzaifah, ibn hibban, dll.
2. Meringkas beberapa hadist sunan dan hukum dengan mengkategorikan sesuai dengan derajat hadist, contoh;
3. menyusun karya mukhtalaf dan musykil hadist sebagai pelengkap karya sebelumnya, contoh;
beberapa bentuk/style karya yang dihasilkan pada masa ini diantaranya adalah;
1. Kitab Musthalah Hadist dan ulum hadist, dengan mengumpulkan daripadanya kaedah-kaedah yang berbeda dalam karya-karya ulama’ pada abad sebelumnya, yaitu abad kedua dan tiga. Contoh;
2. Kutub mustakhrajat, yaitu upaya mentakhrij hadist dari beberapa kitab hadist dengan sanadnya sendiri tanpa mengikuti kaedah penulis, kemudian dikumpulkan sanadnya denga sanad pentakhrij. Contoh;
Sedangkan karya-karya yang masyhur pada abad ini diantaranya;
1. Sahih Ibn Huzaimah
2. Sahih Ibn Hibban
3. Mustadrak hakim
4. Syarh Musykil Atsar al-Tohawiy
5. Mu’jam Kabir al-Thobari
6. Sunah Darul Qutni
7. Sunah Kubra al-Baihaqi.
g. al-Hadist pada Abad Kelima
Pada Abad ini sangat berbeda dengan abad-abad sebelumnya, karena pada abad ini adalah abad dimana dimulai dengan penyusunan karya tentang mausyu’ah hadist, diantaranya;
1. Kitab Jami’ baina Sahihaini
2. Kitab Jami’ baina Kutub Sitah.
Sedangkan beberapa karya yang masyhur pada abad ini, diantaranya;
1. Syarh Sunnah li Al-baghowiy
2. Jami’ al-Usul li Ibn Atsir
h. al-Hadist setelah Abad kelima hingga abad kesembilan
Pada jangka masa yang panjang ini kira-kira empat abad berlalu beberapa penderitaan dan kekacauan muncul dikalangan kaum muslimin, diantara kesengsaraan tersebut adalah;
1. Semakin merosotnya gairah keilmuan dan membekunya pemikiran umat yang sudah mulai nampak tanda-tanda tersebut pada awal abad kelima.
2. Berlangsungnya perang salib dikawasan kaum muslim.
3. TakhluknyaBaghdad di tangan Tartar pada tahun 656 H.
4. Semakin bertambah goncangan ahli bid’ah terhadap kaum muslimin, yang mana ini sudah dimulai sejak awal abad keempat.
5. Perang saudara diantara wilayah kaum muslimin.
Untuk mnghadapi situasi politik tersebut muncul dikalangan para ulama khususnya ulama ahli sunah wal jama’ah usaha untuk meringankan keadaan tersebut, diantara ulama-ulama tersebut adalah;
1. ulama ahlu sunnah seperti; Abu Bakar Baihaqi, Khatib al-Baghdadi hingga muncul Ibnu Taimiyah dengan murid-muridnya yang mulai mengembalikan semangat keilmuan dikalangan umat Islam, sehingga timbul kembali semangat baru untuk berkarya dalam berbagai disiplin ilmu, dalam ilmu Hadist mulai muncul beberapa semangat baru dalam berkhidmat kepada Hadist, diantara samangat tersebut adalah;
a. Berpegang teguh kepada Karya-karya salaf, baik dari hal periwayatan, pengajaran, penjelasan (syarh), dan biography rijal hadist.
b. Berpegang teguh terhadap ilmu hadist, baik penyusunan, pengklasifikasian, dan penjelasan, sehingga muncul pada masa ini berbagai macam karya musthalahul hadist yang sistematis.
c. Penggandaan karya-karya salaf dengan tetap memperhatikan susunannya, sehingga muncul beberapa karya baru, misalnya; 1. Penenyusunan ulang karya-karya salaf dengan tanpa merubah matan dan rijalnya, 2. Penyusunan karya yang mengumpulkan didalamnya judul-judul tertentu yang terbatas, contoh, kutub al-maudhu’at, dan ahkam, 3. Kutub yang memperhatikan khidmat kitab lain, seperti; kutub takhrij, zawaid, dll.
2. Usaha beberapa wilayah dan pemerintah dalam menhdupkan kembali sunah dan menghalau para ahli bid’ah, dengan menghidupkan kembali semgat jihad melawan musuh Islam dan rasulnya dari orang-orang kafir dan munafiq.
3. Usaha para penguasa dan para ulama yang saling nasehat menasehati pada kebenaran dan kesabaran. Sehingga antara ulama dan pemerintah saling mengetahui keutamaan satu dan lainnya.
Beberapa karya pada masa ini, diantaranya;
1. Kutub fi al-Maudluat al-Khasah wa mahdudah
a. Kutub al-Maudlu’at
b. Kutub al-Ahkam
c. Kutub Gharib al-Hadist
d. Kutub al-Targhib wa tarhib
2. Kutub fi al-maudlu’at ‘amah wa samilah
a. kutub al-Athraf
b. kutub al-Takhrij
c. Kutub Zawaid
d. Kutub al-Jawami’
HADIST ANTARA AL-KITABAH, AL-TADWIN, DAN AL-TASHNIF
Al-Kitabah, menurut bahasa adalah masdar dari kataba-yaktubu menulis. Proses penulisan hadist sesuai dengan apa yang telah dijelaskan diatas adalah bahwa ia dimulaikan sejak zaman Rasulullah.
Tadwin, menurut bahasa adalah. Pada abad kedua ini mulailah hadist dibukukan dalam sebuah buku yang tersusun dalam sebuah bab besar sesuai dengan kitab yang digunakan, dan semangat ini muncul pada zaman yang sangat berdekatan pada beberapa tempat yang sedang menggalakkan kajian keilmuan pada sebuh daulah. Sehingga muncul kitab al-masanid kemudian shahih dan tepatlah pada saat ini mulai tersusun kitab hadist secara teratur hingga sampai kepada kita. Sesuai dengan keterangan di atas proses kedua ini sudah dimulai sejak zaman Rasulullah secara tidak resmi dan pada masa Umar bin Abdul Aziz secara resmi dilakukan.
Tashnif, mengumpulkan dari yang tercecer, penjelasan dari yang musykil, peertiban dari yang tidak tertib, menyusun dengan mendaftar dari yang tidak tersusun, sehingga memudahkan bagi talib al-Hadist untuk memanfaatkan buku tersebut. Dari makna diatas maka nampak bahwa proses ini dimulaipada abad ke Abad kedua.
Kesimpulan
Maka hadist sampai pada kita saat ini telah mengalami beberapa proses yang panjang, penyaringan yang ketat, dan klasifikasi yang tepat. Dan khidmah para ulama-ulama abad-abad lampau sungguh sangat besar terhadap pengembangan hadist. Dan ini juga merupakan sebuh bukti bahwa proses keilmuan islam juga memiliki karakteristik sendiri dan tidak mengikuti budaya bangsa lain.
MAJMA’ AL-ZAWAID WA MANBA’ AL-FAWAID
Abdul Haris Bin Bahruddin
IGB 080005
Nama dan Kelahiran
Pengarang karya ini adalah Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman bin Abi Bakr bin Umar bin Saleh Nuruddin Abu Hasan Al-Haithamiy al-Qāhiriy, al-Syāfi’I, al-Hāfiz di kenal sebagai Haithamiy. Ia dilahirkan pada bulan Rajab 735 H. Ia tumbuh besar dan menghafal al-quran. Kemudian bersahabat dengan al-Zein al-‘Irāqiy ketika ia sudah baligh. Sejak pertemuannya, ia tidak pernah berpisah dengan al-Zein sampai beliau wafat. Ia ikut serta dengannya dalam setiap perjalanan dan menemaninya di sepanjang pertualangan mencari hadith. Diantara kota-kota yang pernah dijalaninya selama mengumpulkan hadith adalah Mesir, Kaherah, Haramain, Batul Maqdis, Damsyiq, Ba’labak, Halab dan sekitarnya, Tarablis dan lain-lain.
Bersama Gurunya
Al-Haithamiy banyak menulis dari karya gurunya dan membacakan kembali dihadapannya. Iapun menguasai hadith di tangan gurunya. Ia banyak berlatih dalam mengumpulkan dan menyusun buku. Seperti merangkum tiga karya al-Tabrāniy (al-mu’jam al-ṣaghir, al-mu’jam al-Ausaṭ dan al-mu’jam al-kabir). Selain itu, beliau juga menulis Musnad Ahmad bin Hanbal, Al-Bazzār, Abi Ya’la, yang terdapat dalam al-kutub al-sittah. Kemudian mengumpulkan semua karya ini dalam satu kitab tanpa mencamtumkan sanad-sanad dan di beri nama majma’ al-zawāid wa manba’ al-fawāid.
Al-Haithamiy adalah orang yang taat beragama, bertakwa, zuhud dan suka menuntut ilmu dan beribadah. Dia juga sentiasa berkhidmat kepada Seikhnya, Cinta kepada hadith dan ulama yang berkecimpung di dalamnya. Dia banyak berbicara mengenai hadith dan Sang guru selalu bersamnya. Begitulah kehidupannya sehingga ia wafat pada malam selasa 19 ramadan tahun 807 H. di Kaherah. Sang guru sangat takjub kepadanya. Kerana, selain kepintaranya, ia juga sangat hormat, beradab, sabar serta ikhlas dalam berkhidmat kepada Sang Guru. Ia tidak pernah bosan melakukan semua ini di samping beliau juga menulis hadith. Salah satu bukti kecintaan gurunya kepadanya, ia dikawinkan dengan anak perempuannya yang bernama Khadijah.
Guru-gurunya selain Al-Zein al-’Iraqiy
Selain al-’Irāqiy, dia juga berguru kepada Abu al-Fath al-Maydūmiy, Ibn al-Mulūk, Ibn al-Qaṭrawāniy, Ibn al-Khabbāz, Ibn al-Hamawiy, Ibn Qayyim al-Ḍiyaiyyah, Ibn Abdul Hadi, Muhammad Ibn Abdullah al-Nu’māniy, Ahmad Ibn al-Raṣdiy, al-’Arḍiy, Mudhfir al-din Muhammad Bin Muhammad Bin Yahya al-’Aṭṭār dan Ahmad Ibn Abdurrahman al-murādiy.
Karya-karyanya
Selain karya yang menjadi tajuk tulisan ini masih banyak lagi karya yang telah dihasilkan oleh Imam al-Haithamiy diantaranya:
1. al-Maqṣad al-’Ula fi Zawāid Musnad Abi Ya’la al-Muṣiliy.
2. Mawārid al-Dham’ān fi Zawāid Ṣahih Ibn Ḣibban.
3. Zawāid Ibn Majah ’ala al-kutub al-khamsah.
4. Ghayat al-Maqṣad fi Zawāid Ahmad.
5. Majma’ al-Bahrain fi Zawāid al-Mu’jamain al-Aṣghar wa al-Auṣaṭ Li al-Ṭabrāniy.
6. Baghiyyatu al-Bāhith ’an Zawāid Musnad al-Harith.
7. Zawāid Sunan al-DarQuṭniy
8. Tartib al-Thiqāt Li Ibn Ḣibbān
9. Taqrib al-Baghiyyah Fi Tartib Ahādith al-Hulyah.
Sebab Penulisan karya
Al-Haithamiy berkata ” Setelah aku mengumpulkan zawāid Musnad Imam Ahmad, Abi ya’la al-Mauṣiliy, dan Abu Bakr al-Bazzār, kemudiaan tiga Mu’jam al-Ṭabrāniy, Guruku berkata kepadaku ’kumpulkanlah karya-karya ini tanpa menyebutkan sanad-sanadnya agar terkumpul hadith-hadith setiap bab pada satu bab sahaja.’ Ketika itu akupun mengerjakan arahannya dan memohon kepada Allah pertolongan dan mendapat kemudahan dari-Nya.”
Metodologi penulisan
Ia berkata ”aku menamai karya ini seperti yang di berikan guruku (majma’ al-zawāid wa manba’ al-fawāid). Adapun hadith- hadith yang aku bincangkan kesahihan dan keḍaifannya, apabila hadith itu dari seorang sahabat kemudian kusebutkan matannya, maka aku cukup membincangkan satu hadith yang pertama sahaja. Kecuali jika hadith yang kedua lebih sahih. Apabila hadith tersebut di riwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal maka akan aku teliti rijalnya, keculai ada sanad yang lebih sahih. Jika suatu hadith mempunyai satu sanad yang sahih, maka aku tidak lagi membincangkan hadith-hadith yang lain walaupun sanadnya lemah.
Adapun guru-guru kepada al-Ṭabrāniy, yang di dapati dalam kitab Lisan al-Mizān, aku jelaskan keḍaifannya. Kalau tidak ada dalam kitab tersebut maka aku masukkan ke kategori thiqah. Manakala sahabat tidak mesti di syaratkan untuk masuk dalam karya rijal yang sahih, bagitu juga guru-guru al-Ṭabrāniy yang tidak didapati dalam kitab al-Mizān.
Riwayat Musnad Ibn Hanbal
Pengambilan musnad Imam Hanbal ia dapati dari dua orang guru iaitu, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Anṣāriy al-Khazrajiy al-’Abbādiy dan Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Muhammad al-’Arḍiy dengan cara mendengar dari Hasan berguru kepada Zainab binti Makkiy. Demikianlah sanad ini hingga kepada anak Imam Ahmad bin Hanbal kemudian sampai kepadanya.
Riwayat Musnad Abi Layla
Musnad Abi Layla ia dapati dari Syeikh Zainuddin Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim al-Balbisiy dengan cara mendengar pada semua kitab kecuali juzu dua dan tiga.
Riwayat Musnad al-Bazzār
Adapun Musnad Bazzār ia perolehi dari Qādi al-Muslimin Abu ‘Umar Abdul Aziz bin Qādi al-Muslimin Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Jamā’ah.
Riwayat Al-Mu’jam al-Ṣaghir
Periwayatan Mu’jam al-ṣaghir karangan al-Tabrāniy dia dapati dari dua orang guru iaitu, Abu al-Haram Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Qalānisiy dan Al-Muhaddith Naṣiruddin abu Abdillah Muhammad bin Abi al-Qāsim al-Fāriqiy dengan cara membkeduacakan kepada keduanya.
Riwayat Al-Mu’jam al-Ausaṭ
Periwayatan ini dari Abu Ṭalhah Muhammad bin Ali bin Yusuf al-Harāwiy dengan cara membacakan kepadanya. Dia juga mendengar dari bab ”Nun” sampai kepada akhirnya.
Riwayat Al-Mu’jam al-Kabir
Mu’jam yang terakhir ini diriwayatkan al-Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Abdul Aziz al-Ayyūbiy dengan cara membaca. Dia juga mendengar dari awal Juz tiga puluh tujuh.
Setelah melihat dan mengkaji ”sekelumit” tentang perjalanan hidup dan karya-karya Imam al-Haithamiy, kita boleh mengetahui betapa besarnya sumbangan beliau berkhidmat kepada ilmu hadith. Ia menjalani hidupnya dengan menimba ilmu sejak kecil. Sabar dan penuh ketekunan dalam mencapai sesuatu yang berharga. Sehingga karya-karya yang dihasilkan dapat dirasai manfaatnya bagi orang yang melakukan penelaahan dan penelitian dalam ilmu hadith. Semoga Allah menerima amalan ini disisi-Nya dan menjadikannya kedalam timbangan kebajikannya kelak. Amiin..
Abdul Haris Bin Bahruddin
IGB 080005
Nama dan Kelahiran
Pengarang karya ini adalah Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman bin Abi Bakr bin Umar bin Saleh Nuruddin Abu Hasan Al-Haithamiy al-Qāhiriy, al-Syāfi’I, al-Hāfiz di kenal sebagai Haithamiy. Ia dilahirkan pada bulan Rajab 735 H. Ia tumbuh besar dan menghafal al-quran. Kemudian bersahabat dengan al-Zein al-‘Irāqiy ketika ia sudah baligh. Sejak pertemuannya, ia tidak pernah berpisah dengan al-Zein sampai beliau wafat. Ia ikut serta dengannya dalam setiap perjalanan dan menemaninya di sepanjang pertualangan mencari hadith. Diantara kota-kota yang pernah dijalaninya selama mengumpulkan hadith adalah Mesir, Kaherah, Haramain, Batul Maqdis, Damsyiq, Ba’labak, Halab dan sekitarnya, Tarablis dan lain-lain.
Bersama Gurunya
Al-Haithamiy banyak menulis dari karya gurunya dan membacakan kembali dihadapannya. Iapun menguasai hadith di tangan gurunya. Ia banyak berlatih dalam mengumpulkan dan menyusun buku. Seperti merangkum tiga karya al-Tabrāniy (al-mu’jam al-ṣaghir, al-mu’jam al-Ausaṭ dan al-mu’jam al-kabir). Selain itu, beliau juga menulis Musnad Ahmad bin Hanbal, Al-Bazzār, Abi Ya’la, yang terdapat dalam al-kutub al-sittah. Kemudian mengumpulkan semua karya ini dalam satu kitab tanpa mencamtumkan sanad-sanad dan di beri nama majma’ al-zawāid wa manba’ al-fawāid.
Al-Haithamiy adalah orang yang taat beragama, bertakwa, zuhud dan suka menuntut ilmu dan beribadah. Dia juga sentiasa berkhidmat kepada Seikhnya, Cinta kepada hadith dan ulama yang berkecimpung di dalamnya. Dia banyak berbicara mengenai hadith dan Sang guru selalu bersamnya. Begitulah kehidupannya sehingga ia wafat pada malam selasa 19 ramadan tahun 807 H. di Kaherah. Sang guru sangat takjub kepadanya. Kerana, selain kepintaranya, ia juga sangat hormat, beradab, sabar serta ikhlas dalam berkhidmat kepada Sang Guru. Ia tidak pernah bosan melakukan semua ini di samping beliau juga menulis hadith. Salah satu bukti kecintaan gurunya kepadanya, ia dikawinkan dengan anak perempuannya yang bernama Khadijah.
Guru-gurunya selain Al-Zein al-’Iraqiy
Selain al-’Irāqiy, dia juga berguru kepada Abu al-Fath al-Maydūmiy, Ibn al-Mulūk, Ibn al-Qaṭrawāniy, Ibn al-Khabbāz, Ibn al-Hamawiy, Ibn Qayyim al-Ḍiyaiyyah, Ibn Abdul Hadi, Muhammad Ibn Abdullah al-Nu’māniy, Ahmad Ibn al-Raṣdiy, al-’Arḍiy, Mudhfir al-din Muhammad Bin Muhammad Bin Yahya al-’Aṭṭār dan Ahmad Ibn Abdurrahman al-murādiy.
Karya-karyanya
Selain karya yang menjadi tajuk tulisan ini masih banyak lagi karya yang telah dihasilkan oleh Imam al-Haithamiy diantaranya:
1. al-Maqṣad al-’Ula fi Zawāid Musnad Abi Ya’la al-Muṣiliy.
2. Mawārid al-Dham’ān fi Zawāid Ṣahih Ibn Ḣibban.
3. Zawāid Ibn Majah ’ala al-kutub al-khamsah.
4. Ghayat al-Maqṣad fi Zawāid Ahmad.
5. Majma’ al-Bahrain fi Zawāid al-Mu’jamain al-Aṣghar wa al-Auṣaṭ Li al-Ṭabrāniy.
6. Baghiyyatu al-Bāhith ’an Zawāid Musnad al-Harith.
7. Zawāid Sunan al-DarQuṭniy
8. Tartib al-Thiqāt Li Ibn Ḣibbān
9. Taqrib al-Baghiyyah Fi Tartib Ahādith al-Hulyah.
Sebab Penulisan karya
Al-Haithamiy berkata ” Setelah aku mengumpulkan zawāid Musnad Imam Ahmad, Abi ya’la al-Mauṣiliy, dan Abu Bakr al-Bazzār, kemudiaan tiga Mu’jam al-Ṭabrāniy, Guruku berkata kepadaku ’kumpulkanlah karya-karya ini tanpa menyebutkan sanad-sanadnya agar terkumpul hadith-hadith setiap bab pada satu bab sahaja.’ Ketika itu akupun mengerjakan arahannya dan memohon kepada Allah pertolongan dan mendapat kemudahan dari-Nya.”
Metodologi penulisan
Ia berkata ”aku menamai karya ini seperti yang di berikan guruku (majma’ al-zawāid wa manba’ al-fawāid). Adapun hadith- hadith yang aku bincangkan kesahihan dan keḍaifannya, apabila hadith itu dari seorang sahabat kemudian kusebutkan matannya, maka aku cukup membincangkan satu hadith yang pertama sahaja. Kecuali jika hadith yang kedua lebih sahih. Apabila hadith tersebut di riwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal maka akan aku teliti rijalnya, keculai ada sanad yang lebih sahih. Jika suatu hadith mempunyai satu sanad yang sahih, maka aku tidak lagi membincangkan hadith-hadith yang lain walaupun sanadnya lemah.
Adapun guru-guru kepada al-Ṭabrāniy, yang di dapati dalam kitab Lisan al-Mizān, aku jelaskan keḍaifannya. Kalau tidak ada dalam kitab tersebut maka aku masukkan ke kategori thiqah. Manakala sahabat tidak mesti di syaratkan untuk masuk dalam karya rijal yang sahih, bagitu juga guru-guru al-Ṭabrāniy yang tidak didapati dalam kitab al-Mizān.
Riwayat Musnad Ibn Hanbal
Pengambilan musnad Imam Hanbal ia dapati dari dua orang guru iaitu, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Anṣāriy al-Khazrajiy al-’Abbādiy dan Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Muhammad al-’Arḍiy dengan cara mendengar dari Hasan berguru kepada Zainab binti Makkiy. Demikianlah sanad ini hingga kepada anak Imam Ahmad bin Hanbal kemudian sampai kepadanya.
Riwayat Musnad Abi Layla
Musnad Abi Layla ia dapati dari Syeikh Zainuddin Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim al-Balbisiy dengan cara mendengar pada semua kitab kecuali juzu dua dan tiga.
Riwayat Musnad al-Bazzār
Adapun Musnad Bazzār ia perolehi dari Qādi al-Muslimin Abu ‘Umar Abdul Aziz bin Qādi al-Muslimin Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Jamā’ah.
Riwayat Al-Mu’jam al-Ṣaghir
Periwayatan Mu’jam al-ṣaghir karangan al-Tabrāniy dia dapati dari dua orang guru iaitu, Abu al-Haram Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Qalānisiy dan Al-Muhaddith Naṣiruddin abu Abdillah Muhammad bin Abi al-Qāsim al-Fāriqiy dengan cara membkeduacakan kepada keduanya.
Riwayat Al-Mu’jam al-Ausaṭ
Periwayatan ini dari Abu Ṭalhah Muhammad bin Ali bin Yusuf al-Harāwiy dengan cara membacakan kepadanya. Dia juga mendengar dari bab ”Nun” sampai kepada akhirnya.
Riwayat Al-Mu’jam al-Kabir
Mu’jam yang terakhir ini diriwayatkan al-Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Abdul Aziz al-Ayyūbiy dengan cara membaca. Dia juga mendengar dari awal Juz tiga puluh tujuh.
Setelah melihat dan mengkaji ”sekelumit” tentang perjalanan hidup dan karya-karya Imam al-Haithamiy, kita boleh mengetahui betapa besarnya sumbangan beliau berkhidmat kepada ilmu hadith. Ia menjalani hidupnya dengan menimba ilmu sejak kecil. Sabar dan penuh ketekunan dalam mencapai sesuatu yang berharga. Sehingga karya-karya yang dihasilkan dapat dirasai manfaatnya bagi orang yang melakukan penelaahan dan penelitian dalam ilmu hadith. Semoga Allah menerima amalan ini disisi-Nya dan menjadikannya kedalam timbangan kebajikannya kelak. Amiin..
Langganan:
Postingan (Atom)