Senin, 10 November 2008

SEJARAH PERKEMBANGAN AL-HADIST
(antara al-kitabah, al-tadwin dan al- tashnif)
Oleh: Elit Ave Hidayatullah

PENDAHULUAN

Muhammad sebagai utusan Allah yang ajarannya ditujukan kepada seluruh alam (rahmatan lil'alamin) adalah keyakinan yang harus di imani oleh seluruh ummat Islam setelah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan kepada beliau mu'jizat al-Qur'an diturunkan. Karena beliau adalah Rasulullah maka segala perbuatan beliau adalah ma'shum dan terjaga. Walaupun demikian interaksi beliau dengan masyarakat dan sahabat-sahabatnya tidak menggunakan protocol yang mengatur segala kegiatan beliau, sehingga dengan mudah para sahabat mengambil dan menerima ajaran beliau. Demikian juga sebaliknya para sahabat menjadikan segala yang diketahui dari perbuatan Rasul, ucapan dan tutur kata Rasul sebagai tumpuan perhatian beliau, segala gerak-gerik Rasulullah adalah teladan dan pedoman hidup mereka. Para sahabat tentunya berkeyakinan bahwa meneladani Rasulullah adalah sebuah kewajiban.

Oleh karena itu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya menurut para ulama' disebut al-Hadist. Dalam kaitannya dengan al-Qur'an, al-Hadist adalah sumber agama kedua setelah al-Qur'an. Selain dari pada itu al-Hadist merupakan tafsir atas ayat-ayatnya, penerang atas makna-makna yang terkandung di dalamnya, pengikat atas kemutlakannya, penjelas atas ke rumitannya, penentu atas kemubhamannya, alasan atas hukum-hukumnya, dan mengikutinya adalah wajib sebagaimana mengikuti al-Qur'an, sebagaiman firman Allah; wa maa ataakum al-rasulu fahudzuuhu wamaa nahaakum 'anhu fantahuu.

Sampai ditangan kita ternyata hadist-hadist sudah terkumpul dalam beberapa buku yang masing-masing memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang berisi kumpulan hadist-hadist sahih seperti dalam sahih bukhari, sahih muslim, sunan tirmidzi, ada yang disusun sesuai dengan bab-bab dan topik seperti dalam al-Tarikh al-Kabir dan lain-lain. Kalau kita cermati betapa banyak buku tentang hadist ini tentu merupakan sebuah keinginan para ulama' untuk berkhidmah kepada rasulullah lewat hadist-hadistnya, dan para ulama dalam mengumpulkan hadist-hadist tersebut tentu tidak dengan sembrono namun mereka memiliki pendekatan khusus dalam mempelajari buku-buku sebelumnya dan metode-metode khusus dalam pengumpulannya.


METODE RASUL DALAM MENYAMPAIKAN HADIST

Dalam bermasyarakat dan berinteraksi dengan para sahabat Rasulullah sangat bebas tidak ada batasan antara beliau dan para sahabat sebagaimana kita berinteraksi dengan masyarakat luas dalam sebuah komutisas dalam satu RT atau RW bahkan satu Desa. Ada beberapa batasan memang namun batasan tersebut tentu dalam hal yang berkenaan dengan masalah rumah tangga atau mu'amalah dengan isteri beliau. Hal ini adalah cara rasul untuk menyampaikan risalah kenabiannya. Sehingga para sahabat mampu memahami ajaran beliau dengan mudah.

Kondisi lingkungan, lahiriyah, batiniyah antara sahabat satu dengan yang lainnya tentu bermacam-macam. Maka apabila rasulullah menyampaikan risalahnya tanpa mengerti dan melihat keadaan tersebut tentu akan banyak ajaran yang akana sia-sia belaka dikarenakan kejenuhan para sahabat. Untuk itu rasulullah sangat memperhatikan cara/ metode yang sesuai dengan keadaan para sahabat. Beberapa cara/metode rasul dalam menyampaikan ajarannya antara lain;

1. Melalui jama'ah dalam sebuah majlis 'ilmi.
2. Melalui sahabat tertentu disengaja atau tidak disengaja, karena berkenaan dengan hal-hal yang sensitif, seperti; masalah keluarga, keebutuhan biologis (masalah hubungan antara suami dan isteri) dan lain-lain.
3. Melalui ceramah atau pidato ditempat-tempat terbuka, seperti saat haji wada'
4. Melalui perbuatan langsung yang disaksikan oleh para sahabat, seperti, tatacara shalat.
5. Melalui pertanyaan yang disampaikan oleh beberapa sahabat, seperti, masalah iman
Dari hal tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa umat Islam menerima hadist secara langsung dari sumbernya yaitu Rasulullah baik melalui perkataan beliau, perbuatan beliau dan ketetapan-ketetapan beliau.


SEKITAR PENULISAN HADIST

Polemik antara perintah dan larangan dalam menulis hadist

Kegiatan tulis menulis Mayoriti perhatian para sahabat pada masa Rasulullah adalah tentang al-Qur’an dan tidak banyak para sahabat yang meberikan perhatian khusus terhadap Hadist. Hal ini bukan karena mereka tidak sengan dengan Hadist, namun lebih disebabakan oleh hadist Rasul yang melarang para sahabat untuk menulis hadist. Diantara mereka yang meriwayatka hadist tersebut adalah Abu Sa’id al-Khudri, Abu Hurairah dan Zaid bin Tsabit.

Dari Abu Sa’id al-Hudzriy RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah menulis ucapan-ucapanku, dan barang siapa menulis ucapanku selain dari al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya”.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW diberitahu bahwa orang-orang banyak menuis hdist-hadistnya. Maka beliau lalu naik mimbar, dan setelah membaca hamdalah beliau bersabda; Apa maksud kalian menulis kitab-kitab itu?. Saya hanyalah menusia. Siapa yang mempunya tulisan-tulisan harap dibawa kemari”. Kata Abu Hurairah selanjutnya, “kemudian kami mengumplkan tulisan-tulisan itu, lalu dikeluarkan. Lalu kami bertanya Rasulullah. Apakah kami boleh meriwayatkan Hadist dari padamau ya Rasulullah? Rasulullah menjawab “ya boleh, riwayatkanlah hadist-hadist daripadaku, tidak apa-apa. Dan barang siapa mendustakan diriku dengan sengaja, maka siap-siaplah engkau masuk neraka. Kemudian Abu Hurairah mengatakan, “kemudian tulisan-tulisan itu kami kumpulkan menjadi satu lalu kami membakarnya.

Berasal dari Muthalib bin ‘Abdullah bin Hantab. Kata al-Muttalib, Zaid bin Tsabit datang kepada mu’awiyah, lalu Muawiyah menanyai tentang suatu hadist. Muawiyah juga menyuruh pembantunya untuk menulis hadist tersebut. kepada Mu’awiyah, Zaid lalu mengatakan bahwa Rasulullah SAW melarang mereka menulis hadist.

Namun selain hadist-hadist tersebut diatas ternyata, ada juga hadist yang menjelaskan, bahwa Rasulullah mengizinkan untuk menulis hadist, diantaranya;

Dari ‘Abdullah bin Amru bertanya: “Wahai Rasulullah apakah saya mengikat setiap ilmu? Rasul bersabda: (ya). Dan bertanya lagi. “apakah yang akan mengikatnya? Rasul Bersabda; “Kitab”.

Dari Abu Hurairah berkata: “Tidak ada satupun sahabat Nabi SAW paling banyak hadistnya kecuali ‘Abdullah bin Amru, sesungguhnya ia menulis dan aku tidak”.
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku menulis sesuatu yang saya dengar darimu?” Rasul bersabda: “ya”.

Beberapa ulama beranggapan bahwa riwayat hadist yang menyatakan tentang pelarangan Rasul terhadap penulisan hadist adalah tidak diterima dengan beberapa sebab, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri saja yang perlu dipertimbangkan meskipun juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’. Sedangkan hadist yang berkenaan dengan izin Rasul untuk menulis hadist selain yang tersebut di atas adalah masih sangat banyak dan majority riwayatnya adalah shahih.

Sebagaimana telah diterangkan tentang derajat hadiast yang berkaitan dengan permasalah tersebut, dapat disimpulkan bahwa hadist tentang pelarangan menulis di batalkan (mansukh) dengan hadist yang mengizinkan penulisan. Sedangkan tentang maksud pelarangan tersebut adalah disebabkan karena pada awalya para sahabat mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan kepadanya, sebagaiamana mendengarkan keteranga tentang makna ayat tersebut dari Rasulullah dalam satu waktu.

Oleh karena itu kemungkinan penulisan ayat al-Qur’an dan keterangan Rasul dalam satu tempat oleh para sahabat itu terjadi, maka dilaranglah penulisan hadist. Namun setelah muncul para penghafal al-Qur’an dari kalangan para sahabat selain itu mereka juga mempu membedakan antara kalamullah dan kalamurrasul dan hilangnya perasaan takut tercampur antara keduanya, maka dibolehkanlah penulisan tersebut. Sebagaimana Ibn Shalah dalam Muqaddimahnya menyatakan bahwa izin penulisan hadist adalah khusus dan larangan tersebut adalah umum;

ولعله صلى الله عليه وسلم أذن في الكتابة عنه لمن خشى عليه النسيان، ونهى عن الكتابة من وثق بحفظه، محافظة الاتكال على الكتاب، أو نهى عن كتابة ذلك عنه حين خاف عليهم اختلاط ذلك بصحف القرآن العظيم وأذن في كتابته حين أمن من ذلك.

Dari beberapa keterangan tersebut di atas dapat kita fahami bahwa proses penulisan hadist sudah dimulai sejak zaman Rasulullah.

Hadist pada masa sahabat

Loyalitas para sahabat terhadap Rasulullah dan ajarannya memang tidak diragukan lagi. Sejak wafatnya Rasulullah hingga masa Khalifah Umar bin Khatab perhatian para sahabat terhadap al-Qur’an adalah di atas segalanya. Walaupun telah ada riwayat Nabi yang mengizinkan penulisan hadist, namun para sahabat menahan diri untuk menulis hadits, ini disebabkan karena keinginan para sahabat untuk menjaga al-Qur’an dan Hadits. Sehinggalah muncul di antara mereka kelompok yang setuju dengan penulisan hadits dan kelompok yang tidak setuju dengan penulisan tersebut. Namun karena banyak kalangan sahabat yang setuju dengan kegiatan tersebu, maka yang sebelumnya tidak setuju akhirnya menyetujui rencana tersebut.

Adalah Umar bin Khattab (10 SH – 74 H) dalam hal ini sangat berhati-hati dengan rencana tersebut hingga mencurahkan seluruh fikirannya demi rencana tersebut. Sampai akhirnya datanglah petunjuk dengan mengkaji pendapat-pendapat para sahabat, dan setelah melakukan istikharah selama satu bulan, seraya berkata: “Sungguh tidak ada kitab lain selain kitabullah”. Kehati-hatian Umar tersebut bukan tidak beralasan, akan tetapi ditakutkan kegiatan tersebut akan menjadikan perhatian kaum muslimin terhadap al-Qur’an berpindah kepada hadist, yang kemudian menganggap hadits adalah lebih utama dari pada al-Qur’an.

Diantara para sahabat, pada masa Rasulullah masih hidup, banyak diantara mereka yang menulis tentang hadits – meskipun jumlah hadist yang ditulis berbeda antara satu dengan lainnya - yang mana tulisan tersebut dijadikan koleksi pribadi para sahabat, baik tulisan-tulisan tersebut sudah disampaikan kepada kaum muslimin. Diantaranya adalah ‘Abdullah bin Amru bin ‘Ash (27 SH – 63 H), Jabir Ibn Abdillah (16 SH – 78 H), Imam ‘Ali Radliyallahu ‘Anhu (23 SH – 40 H). Disamping tulisan para sahabat tersebut juga terdapat tulisan yang sudah dimusnahkan seperti yang dimiliki oleh Abu Bakar (50 SH – 13 H).

Hadist pada masa tabi’in

Perselisihan pada masa tabi’in ini tidaklah berbeda degan perselisihan pada masa sahabat, yaitu antara kelompok yang memperbolehkan penulisan hadist dan kelompok yang melarang menulisnya. Namun pada masa ini isu yang bergulir adalah bahwa para diantara mereka ada yang memasukkan beberapa ide mereka kedalam hadist. Diantara mereka yang menolak penulisan tersebut adalah; Ubaidah bin ‘Amru al-Sulaimaniy al-Muradiy (72 H), Ibrahim Yazid Taymiy (92 H), Jabir bin Zaid (93 H), Ibrahim al-Nakha’iy (96 H).

Akan tetapi isu tersebut menurut Ibn Shalah dalam muqaddimahnya, menyatakan, bahwa penambahan tersebut bukanlah pada esensi hadits ataupun dzatnya – meskipun pendapatnya juga menuai pro dan kontra. Namun kaum muslim permisif dan setuju dengan menyebarluaskannya, seandainya tidak ditulis dalam sebuah buku maka tidak akan dapat dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya. Sejak saat inilah mulai menyebar penulisan hadist di mana-mana hingga sampai pada para khalifah, sehingganya mereka yang awalnya tidak setuju kemudian mulai mendatangi majlis-majlis ilmu dan mulai memerintahkan kepada beberapa orang untuk menuliskan hadist. Pada masa itu adalah masa Khalifah Umar bin Abd al-Aziz;

عن عبد الله بن دينار قال: خرج علينا عمر ابن عبد العزيز إلي إهل المدينة: أن انظرو حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاكتبوه، فإن قد خفت دروس العلم وذهاب اهله

Maka pada masa khalifah Umar bin Abd al-Aziz inilah mulai muncul perhatian khusus terhadap hadist. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa inilah pertamakali dikumpulkan al-Hadist, walaupun ada yang mengatakan bahwa sebelum Umar yaitu Raja Mesir Abd al-Aziz bin Marwan (85 H). Selain dari pada itu beberapa ulama menyatakan bahwa penulisan hadist sudah sejak zaman Rasulullah sudah dilakukan namun tidak secara resmi, dan di masa Umar bin Abd al-Aziz inilah mulai proses penulisan secara resmi.

Maka tidak heran apabila pada masa ini mulai muncul ulama-ulama yang mengumpulkan dan menghimpun hadist-hadist dalam satu buku. Dan pada masa ini juga penghimpunan tersebut mulai menunjukkan sebuah usaha baru dengan menjadiakan dalam satu kitab tersebut tersusun dengan susunan yang teratur. Diantaranya adalah;
Nama Wafat Tempat
Abd Malik bin Abd Aziz bin Juraikh al-Bashry 150 Mekkah
Malik bin Anas 178
Muhammad bin Ishaq 151 Madinah
Muhammad bin ‘Abdurrahman Abi Dza’bi 158


HADITS NABI DARI MASSA KE MASSA

Pada bagian ini penulis mencoba merangkum apa yang ada pada kitab “Tadwin al-Sunah al-Nabawiyyah” karya Dr. Muhammad Mathor al-Dzahroni. Beliau menjelaskan pada bukunya tentang sejarah perkembangan hadist sejak abad pertama hingga abad kelima selain itu ia dalam bukunya juga disenaraikan beberapa karya yang di hasilkan ulama pada abad tersebut. Sebenarnya juga beliau menjelaskan sedikit tentang karakteristik karya-karya tersebut. namun penulis kali ini tidak menuliskan dalam bagian ini karena pembahasan tentang hal itu akan dibahaskan oleh kawan-kawan lainnya.

a. al-Hadist pada Abad Pertama

Pada abad ini dimulakan pembahasan sejak zaman Rasulullah, Shahabat, dan Tabi’in.

Pertama, hadist pada masa Rasulullah, pada masa ini tidak banyak yang dibahaskan, karena sebagian telah di bahaskan pada bagian sebelum ini. Karena sememangnya perkembangan hadist pada saat itu, masih dalam taraf penulisan dan pengumpulan yang dilakukan oleh beberapa sahabat. Tetang karya yang dihasilkan pada saat itu adalah hanya berupa surat-surat Rasulullah kepada beberapa raja, tidak lebih dari itu.

Kedua, pada masa Sahabat, pada masa ini banyak sekali khidmah khidmah sahabat dalam rangka menjaga kemurnian hadist nabi, diantara beberapa usaha yang dilakukan pada masa ini adalah;

1. Penghafalan hadist dan penjagaannya, disamping itu juga perintah untuk menulis kepada para murid.
2. Penulisan sunah Nabi dari antar satu sahabat dengan sahabat lainnya, sebagai contoh;
a. Asid Bin Hidir al-Anshori telah menulis beberapa hadist Rasul dan Hukum-Hukum Abu Bakar dan kemudian mengirimkannya kepada Marwan bin Hakim.
b. Jabir bin Samrah menulis beberapa hadist Rasul yang diambilnnya dari Amir bin Sa’id bin Abi Waqas. dll
3. Perintah kepada para murid untuk menuliskan setiap hadist yang diperolehinya, sebagai contoh;
a. Anas bin Malik memerintahkan anak-anaknya untuk menulis ilmu yang diajarkan kepadanya.
b. Diriwayatkan dari Khatib dari murid Abdullah bin Abbas ia berkata: “menjaga ilmu dengan menuliskannya pada buku adalah lebih baik. Karena ia adalah sebaik-baik pengikat”. Dll
4. Pengumpulan hadist pada satu mushaf, yang kemudian saling berpindah dari satu syaikh kepada muridnya.

Pada masa inilah mulai dilakukan pengumpulan hadist pada suhuf yang pertama kali pada abad kedua dan ketiga, baik berupa jawami’, masanid, dan sunan. Diantara mushaf tersebut adalah; Sahifah Abu Bakar, Sahifah Ali bin Abi Thalib, Sahifah Abdullah bin Amr bin Ash, semuanya ditulis pada zaman Rasulullah. Selain dari itu ada juga, Sahifah Abdullah bin Abi Aufi, Sahifah Abi Musa al-Asy’ari, Sahifah Jabir bin Abdullah.

Ketiga, usaha Tabi’in dalam menjaga kemurnian hadist Nabi SAW, diantara usahanya adalah;

1. Perintah untuk menghormati sunah dengan menghafal dan menuliskannya dengan memverivikasi riwayatnya dan kabarnya.
2. Pengumpulan hadist pada satu mushaf
Pada masa ini memang sudah tersebar hadist dikalangan masyarakat secara lebih luas lagi dibandingkan dengan pada masa Rasulullah dan Sahabat, sehingga penulisan hadist pada masa ini telah menjadi sebuah trend tersendiri dalam setiap khalaqah ilmu di dunia Islam. Dan beberapa factor yang mendorong kegiatan tersebut adalah;
a. Menyebarnya riwayat hadist, sanad yang panjang, banyaknya nama perawi dan kunnanya, juga nasabnya.
b. Wafatnya beberapa penghafal hadist dari kalangan sahabat dan kibar al-tabi’in. sehingga ditakutkan sunah akan hilang bersamaan dengan meninggalnya mereka.
c. Lemahnya kemampuan menghafal, apalagi semakin menyebarnya ilmu-ilmu lain dikalangan umat muslim.
d. Munculnya kalangan penyebar bid’ah dikalangan muslim.
3. pada masa ini juga telah dihasilkan beberapa karya diantaranya adalah;
a. Sahifah Sa’id bin Jabir murid Ibn Abbas.
b. Sahifah Basyir bin Nahik ditulis dari Abu Hurairah dan lainya.
c. Sahifah Mujahid bin Jabir murid Ibn Abbas, dll.

Keempat, ini adalah beberapa usaha Daulah Islamiah dalam rangka memurnikan hadist dari penyelewengan. Pada masa khalifah Umar bin Abdul Azizlah nampak bahwa perhatian Daulah Islamiah sangat besar atas pekembangan hadist Nabi. Sehingga tidak heran apabila dinisbahkan kepada beliau proses pengumpulan hadist pertamakali. Walaupun ada pendapat yang menyatakan bahwa Ibn Syihablah yang paling pertama telah menulis hadist sebelum Umar.

d. al-Hadist pada Abad Kedua

Pada abad ini dibagi menjadi dua. Pertama adalah shighar tabi’in (yang meninggal terakhir setelah 140H). Pada masa ini adalah masa dimana telah dijelaskan sebelumnya. Kedua, adalah pengikut tabi’in setelah generasi sahabat dan tabi’in dalam silsilah periwayatan sunah dan penyampaian agama kepada kaum muslimin.
Pada masa kedua ini adalah masa dimana kaum muslimin berhadapan dengan kaum penyebar bid’ah dan berita bohong yang dilakukan oleh kaum Zindiq yang memiliki motivasi besar dalam rangka melawan dan menentang kebenaran sunnah. Hingga akhirnya khalifah al-Mahdi berinisiatif untuk mengrim salah seorang untuk masuk kedalam kelompok orang zindik, untuk mengetahui kegiatan dan aktifitas mereka.

Namun dibalik serangan musuh yang bertubi-tubi, timbul pada diri kaum muslimin untuk berkhidmah kepada hadist Nabi, sehingganya mereka mulai mengumpulkan hadist-hadist dengan mensistematiskannya dalam bab-bab yang teratur. Sebagaimana muncul juga pada masa ini ilmu rijal diantara ulama yang menyusun ilmu ini adalah; laits bin Sa’ad (175 H), Ibn Mubarak (181 H), dlumrah bin Rabi’ah (202 H), al-fadl bin Dakkin (217 H), dll. Maka masa ini adalah masa pengasasan ilmu sunah “jil al-ta’sis li ‘ulum al-Sunnah al-Muthahharah” sehingga hidup pada masa ini, Imam Malik, Syafi’I, al-Tsauri, Al-Auza’I, Su’bah, Ibn Mubarak, Ibrahim al-Fazari, ibn Uyainah, Qattan, Ibn Mahdi, waki’, dll.

Karakteristik pengumpulan hadist pada abad ini adalah;

1. Pengumpulan Hadist secara sistematis mengikuti bab dan keutamaan setiap mushaf.
2. Dikumpulkan juga pada masa ini pendapat para sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in disamping hadist-hadist Rasulullah.
3. tekhnik pengumpulan yang digunakan adalah dengan mengumpulkan hadist-hadist sesuai dengan bab kecil, kemudian dikumpulkan bab-bab tersebut pada bab besar atau Kitab dalam satu mushaf.
4. sedangkan materi/matan yang ada dalam musannafat pada masa ini adalah kumpulan mushaf-mushaf pada masa sahabat dan tabi’in juga dari beberapa ungkapan sahabat dan tabi’in secara lisan.

Pada masa ini telah dihasilkan beberapa kary besar yang berkaitan dengan musannaf, jami’, dan sunan, dan yang paling masyhur diantaranya adalah al-muwatha’ imam malik. Selain beberaa kerya tersebut, beberapa ulamapun telah menghasilkan beberapa karya, diantara ulama tersebut;

1. Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (150 H) di mekkah.
2. Muhammad bin Yasar al-Mathlabiy (151 H) di madinah.
3. Mu’ammar bin Rasyid al-Bashriy Shan’aniy (153 H) di Yaman, dll.

e. al-Hadist pada Abad Ketiga

Pada abad ini adalah abad dimana ilmu-ilmu Islam secara umum dan ilmu hadist secara khusus berkembang luas di seluruh penjuru dunia. Maka pada masa inilah mulai muncul kegiatan rihlah untuk mencari ilmu, pennyusunan ilmu rijal, disamping juga muncul para ulama penghafal hadist dan pengkrtik periwayat hadist. Diantara ulama-ulama tersebut adalah; Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahwayah, Ali Ibn al-Madini, Yahya bin Mu’in, Muhammad bin Muslim bin Warah, Abu Abdullah al-Bukhari, Muslim bin Hajjaj, Abu Zar’ah, Abu Hatim al-Raziyani, Utsman bin Sa’id, ‘Abdullah bin Abdullarhman al-Darimiyani, dll.

Karena telah muncul karya-karya baru dalam bidang aqidah maka ulama-ulama hadistpun juga menghasilkan beberapa karya hadist yang berkenaan dengan isu tersebut, diantara karakter karya pada masa ini adalah;

1. Pengumpulan nash-nash dari kitab atau sunah yang berkaitan dengan aqidah yang disertakan padanya keterangan tentang metode salaf – sahabat dan tabi’in – dalam memahami nash-nash tersebut. serta beberapa pandangan mereka terhadap penyebar bid’ah. Dan yang semacam ini diberi judul dengan al-sunnah, contoh; al-Sunnah Ahmad bin Hambal, Anaknya Abdullah, Abi Nash al-maruziy, dll.

2. Penentangan terhadap para penyebar bid’ah, yang mengandungi didalamnya keterangan tetang kesesatan mereka, dan cara menghadapi ancama mereka, sehingga kaum muslimin dapat berhati-hati terhadap ide-ide mereka.

Adapun karakteristik karya mengenai hadist pada masa ini diantaranya adalah;

1. mengklasifiksikan hadist-hadist rasul dan memisahkannya dari pendapat sahabat dan fatwa-fatwa para tabi’in.
2. mengklasifikasikan dan menjelaskan derajat hadist mulai dari yang sahih hingga dla’if.
3. beragamnya karya-karya sunah, diantaranya;

- kutub al-masanid, dikumpulkan daripadanya hadist-hadist para sahabat menjadi satu, seperti musnd al-Imam Ahmad, dll.
- Kitab sahih dan sunan, dikumpulkan padanya hadist-hadst Rasulullah, pada bab utama dan bab-bab kecil dengan memperhatikan derajat kesahihan hingga kedla’ifan hadist tersebut, seperti kutub sittah; Imam Bukhari, Imam Muslim, Sunan Abi Daud, Jami’ Tirmidzi, Sunan Nasa’I, Sunan Ibn Majah.
- Kutub mukhtalaf al-hadist dan kemusykilannya, seperti ikhtilaf al-hadist Imam Syafi’iy, ali al-madiniy, ta’wil mukhtalaf al-hadist ibn Qutaibah.

f. al-Hadist pada Abad Keempat

Pada abad ini tidak banyak metode baru yang dikembangkan oleh para ulama, pada umumnya mereka mengikuti ulama pada abad sebelumnya, yaitu abad ketiga, dan beberapa usaha yang diupayakan ulama hadist pada masa ini, diantaranya adala;

1. mentakhrij hadist-hadist sahih, contoh; sahih in hudzaifah, ibn hibban, dll.
2. Meringkas beberapa hadist sunan dan hukum dengan mengkategorikan sesuai dengan derajat hadist, contoh;
3. menyusun karya mukhtalaf dan musykil hadist sebagai pelengkap karya sebelumnya, contoh;
beberapa bentuk/style karya yang dihasilkan pada masa ini diantaranya adalah;
1. Kitab Musthalah Hadist dan ulum hadist, dengan mengumpulkan daripadanya kaedah-kaedah yang berbeda dalam karya-karya ulama’ pada abad sebelumnya, yaitu abad kedua dan tiga. Contoh;
2. Kutub mustakhrajat, yaitu upaya mentakhrij hadist dari beberapa kitab hadist dengan sanadnya sendiri tanpa mengikuti kaedah penulis, kemudian dikumpulkan sanadnya denga sanad pentakhrij. Contoh;

Sedangkan karya-karya yang masyhur pada abad ini diantaranya;

1. Sahih Ibn Huzaimah
2. Sahih Ibn Hibban
3. Mustadrak hakim
4. Syarh Musykil Atsar al-Tohawiy
5. Mu’jam Kabir al-Thobari
6. Sunah Darul Qutni
7. Sunah Kubra al-Baihaqi.

g. al-Hadist pada Abad Kelima

Pada Abad ini sangat berbeda dengan abad-abad sebelumnya, karena pada abad ini adalah abad dimana dimulai dengan penyusunan karya tentang mausyu’ah hadist, diantaranya;

1. Kitab Jami’ baina Sahihaini
2. Kitab Jami’ baina Kutub Sitah.

Sedangkan beberapa karya yang masyhur pada abad ini, diantaranya;

1. Syarh Sunnah li Al-baghowiy
2. Jami’ al-Usul li Ibn Atsir

h. al-Hadist setelah Abad kelima hingga abad kesembilan

Pada jangka masa yang panjang ini kira-kira empat abad berlalu beberapa penderitaan dan kekacauan muncul dikalangan kaum muslimin, diantara kesengsaraan tersebut adalah;

1. Semakin merosotnya gairah keilmuan dan membekunya pemikiran umat yang sudah mulai nampak tanda-tanda tersebut pada awal abad kelima.
2. Berlangsungnya perang salib dikawasan kaum muslim.
3. TakhluknyaBaghdad di tangan Tartar pada tahun 656 H.
4. Semakin bertambah goncangan ahli bid’ah terhadap kaum muslimin, yang mana ini sudah dimulai sejak awal abad keempat.
5. Perang saudara diantara wilayah kaum muslimin.

Untuk mnghadapi situasi politik tersebut muncul dikalangan para ulama khususnya ulama ahli sunah wal jama’ah usaha untuk meringankan keadaan tersebut, diantara ulama-ulama tersebut adalah;

1. ulama ahlu sunnah seperti; Abu Bakar Baihaqi, Khatib al-Baghdadi hingga muncul Ibnu Taimiyah dengan murid-muridnya yang mulai mengembalikan semangat keilmuan dikalangan umat Islam, sehingga timbul kembali semangat baru untuk berkarya dalam berbagai disiplin ilmu, dalam ilmu Hadist mulai muncul beberapa semangat baru dalam berkhidmat kepada Hadist, diantara samangat tersebut adalah;

a. Berpegang teguh kepada Karya-karya salaf, baik dari hal periwayatan, pengajaran, penjelasan (syarh), dan biography rijal hadist.
b. Berpegang teguh terhadap ilmu hadist, baik penyusunan, pengklasifikasian, dan penjelasan, sehingga muncul pada masa ini berbagai macam karya musthalahul hadist yang sistematis.
c. Penggandaan karya-karya salaf dengan tetap memperhatikan susunannya, sehingga muncul beberapa karya baru, misalnya; 1. Penenyusunan ulang karya-karya salaf dengan tanpa merubah matan dan rijalnya, 2. Penyusunan karya yang mengumpulkan didalamnya judul-judul tertentu yang terbatas, contoh, kutub al-maudhu’at, dan ahkam, 3. Kutub yang memperhatikan khidmat kitab lain, seperti; kutub takhrij, zawaid, dll.
2. Usaha beberapa wilayah dan pemerintah dalam menhdupkan kembali sunah dan menghalau para ahli bid’ah, dengan menghidupkan kembali semgat jihad melawan musuh Islam dan rasulnya dari orang-orang kafir dan munafiq.
3. Usaha para penguasa dan para ulama yang saling nasehat menasehati pada kebenaran dan kesabaran. Sehingga antara ulama dan pemerintah saling mengetahui keutamaan satu dan lainnya.

Beberapa karya pada masa ini, diantaranya;

1. Kutub fi al-Maudluat al-Khasah wa mahdudah
a. Kutub al-Maudlu’at
b. Kutub al-Ahkam
c. Kutub Gharib al-Hadist
d. Kutub al-Targhib wa tarhib
2. Kutub fi al-maudlu’at ‘amah wa samilah
a. kutub al-Athraf
b. kutub al-Takhrij
c. Kutub Zawaid
d. Kutub al-Jawami’


HADIST ANTARA AL-KITABAH, AL-TADWIN, DAN AL-TASHNIF

Al-Kitabah, menurut bahasa adalah masdar dari kataba-yaktubu menulis. Proses penulisan hadist sesuai dengan apa yang telah dijelaskan diatas adalah bahwa ia dimulaikan sejak zaman Rasulullah.

Tadwin, menurut bahasa adalah. Pada abad kedua ini mulailah hadist dibukukan dalam sebuah buku yang tersusun dalam sebuah bab besar sesuai dengan kitab yang digunakan, dan semangat ini muncul pada zaman yang sangat berdekatan pada beberapa tempat yang sedang menggalakkan kajian keilmuan pada sebuh daulah. Sehingga muncul kitab al-masanid kemudian shahih dan tepatlah pada saat ini mulai tersusun kitab hadist secara teratur hingga sampai kepada kita. Sesuai dengan keterangan di atas proses kedua ini sudah dimulai sejak zaman Rasulullah secara tidak resmi dan pada masa Umar bin Abdul Aziz secara resmi dilakukan.

Tashnif, mengumpulkan dari yang tercecer, penjelasan dari yang musykil, peertiban dari yang tidak tertib, menyusun dengan mendaftar dari yang tidak tersusun, sehingga memudahkan bagi talib al-Hadist untuk memanfaatkan buku tersebut. Dari makna diatas maka nampak bahwa proses ini dimulaipada abad ke Abad kedua.


Kesimpulan

Maka hadist sampai pada kita saat ini telah mengalami beberapa proses yang panjang, penyaringan yang ketat, dan klasifikasi yang tepat. Dan khidmah para ulama-ulama abad-abad lampau sungguh sangat besar terhadap pengembangan hadist. Dan ini juga merupakan sebuh bukti bahwa proses keilmuan islam juga memiliki karakteristik sendiri dan tidak mengikuti budaya bangsa lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar